TEMPAT KAMI MELAPORKAN


Terjemahkan halaman dengan Google

Journalist Resource Maret 20, 2023

Peliputan Lingkungan: Gastrocolonialism

Penulis:
Limbung Pangan1 Papua
Inggris

The food estate project has become a nightmare for indigenous peoples and the last tropical forest...

author #1 image author #2 image
Berbagai penulis
SECTIONS

Bagaimana seorang jurnalis dapat meliput "gastrocolonialism", sebuah konsep yang belum banyak dikenal? Penerima dana Rainforest Journalism Fund (RJF) Asia Tenggara berhasil mengangkat sebuah istilah yang belum dikenal ini, menjadi liputan jurnalisme yang sangat apik sekaligus mempopulerkan konsep ini di Indonesia.


Apa itu ‘gastrocolonialism’ dan siapa yang menciptakannya? 

Anda mungkin pernah mendengar tentang kolonialisme atau penjajahan, tetapi apa itu ‘gastrocolonialism’? Ini adalah fenomena ketika makanan yang diproduksi dan didistribusikan oleh perusahaan-perusahaan besar menggantikan sistem pangan tradisional dan pola makan masyarakat lokal dan, dalam prosesnya, memicu kekurangan gizi dan penyakit. 

Istilah ini diciptakan oleh seorang akademisi dari Pulau Guam di Pasifik, Craig Santos Perez, ketika dia meneliti bagaimana sistem pangan dan kesehatan masyarakat di Hawaii terkikis oleh impor berskala besar atas makanan olahan murah berkualitas rendah yang dibuat oleh perusahaan multinasional.

Yang terjadi di Hawaii, juga terjadi di Indonesia, tepatnya Papua. Masyarakat di Papua dulunya memiliki sumber makanan bergizi yang melimpah. Namun, pola makan mereka berubah drastis ketika pemerintah memperkenalkan beras, kemudian mie, dan mengubah tanah Papua menjadi lahan monokultur berskala besar.

RJF akan menyelenggarakan webinar tentang Gastrocolonialism. Daftar di sini. 


Seorang anak bersiap menyantap nasi di sebuah bivak di Distrik Animha, Kabupaten Merauke, Papua. Anak-anak biasanya diajak orang tua mereka untuk tinggal di bivak selama enam hari, dan pada akhir pekan mereka kembali ke kampung. Mereka kembali lagi pada awal pekan. Gambar oleh Agus Susanto/Kompas. Indonesia, 2022.

Gastrocolonialism sebagai titik mula jurnalisme yang tangguh

Pada proyek 'Masyarakat yang Kelaparan di Ketahanan Pangan di Merauke', penerima dukungan RJF Asia Tenggara, Ahmad Arif dan Saiful Rijal Yunus, menyelidiki bagaimana masyarakat Papua dipisahkan dari sistem pangan mereka karena adanya proyek ketahanan pangan yang sangat besar. 

Di Papua, program ketahanan pangan yang dimulai pada tahun 2010 telah dihidupkan kembali oleh pemerintahan saat ini. Meskipun ada kritik mengenai dampak lingkungan dan sosialnya, proyek Merauke Integrated Food and Energy Estate (MIFEE) saat ini telah beroperasi dan berdampak pada masyarakat tradisional setempat.

Namun, bagaimana para jurnalis ini menunjukkan bahwa gastrocolonialism alias penjajahan pangan sedang terjadi di wilayah tersebut? Bagaimana mereka mengungkap hubungan antara ketahanan pangan dan memburuknya kesehatan penduduk setempat? 

Dalam artikel Kulit dan Tulang untuk Anak-Anak, para jurnalis berangkat dari meningkatnya kasus malnutrisi di wilayah tersebut dan mewawancarai para orang tua yang memiliki anak dengan kekurangan gizi. Mereka mengidentifikasi bahwa sistem pangan lokal yang kaya dan pola makan mereka telah digantikan oleh nasi dan mie instan dalam cerita Marind Anim Yang Dipaksa Meninggalkan Sistem Pangan Lokal. Para jurnalis penerima dukungan RJF menunjukkan hal ini dengan menggambarkan secara rinci bagaimana sumber makanan mereka telah berubah, bersama dengan data kasus malnutrisi, selama bertahun-tahun. 

"Dengan menunjukkan dampaknya (kasus malnutrisi atau kekurangan gizi) terlebih dahulu, kami berharap dapat menarik perhatian publik sebelum kami berdebat tentang faktor 'mengapa'. Kami kemudian menjelaskan mengapa hal itu terjadi dengan tulisan tentang kegagalan program ketahanan pangan, dan kesalahan gastrocolonialism, yang beririsan dengan berbagai masalah sosial, ekonomi, dan budaya," jelas Arif kepada RJF.

Kelangkaan Pangan di Merauke, membawa pembaca pada program ketahanan pangan yang saat ini sedang dikembangkan, namun menyebabkan kelangkaan pangan di Papua. Dalam bagian keempat dari seri laporan ini, Kegagalan Berulang Program Ketahanan Pangan, para jurnalis penerima dukungan RJF mampu menunjukkan bagaimana program ini dirancang dan diimplementasikan dengan buruk, dan menghalangi warga untuk mengakses sumber pangan secara fisik. 

"Kami melakukan pendekatan terhadap proyek ini dengan mempertimbangkan interseksionalitas. Konsep ini mungkin jarang digunakan oleh para jurnalis, tetapi konsep ini membantu kami untuk menganalisis dan memahami bagaimana lumbung pangan mempengaruhi penduduk transmigran dan penduduk lokal Papua secara berbeda," tambah Arif. 

"Kami membandingkan empat desa. Kami menemukan bahwa desa-desa dengan penduduk asli Papua adalah desa yang paling rentan terhadap kekurangan gizi dan stunting. Kami kemudian dapat mengatakan bahwa di Merauke, sistem pangan dari luar telah menggantikan sistem pangan lokal sehingga menyebabkan malnutrisi. Oleh karena itu, telah terjadi penjajahan pangan," jelasnya. 

Dengan secara bertahap menunjukkan semua bukti, termasuk foto-foto yang tajam, kesaksian warga, dan visualisasi data, para jurnalis membuktikan bahwa kolonialisme gizi sedang terjadi di wilayah tersebut. Pihak elit pemerintahan merancang program-program gagal yang menargetkan stabilitas pangan masyarakat Papua dan lebih lanjut dapat dibaca di Gastro-Colonialism di Merauke.


Warga Marind-Anim bersiap menyajikan sagu di Kampung Zanegi, Distrik Animha, Kabupaten Merauke, Papua. Foto oleh Agus Susanto/Kompas. Indonesia, 2022.

Gastrocolonialism: mengapa pakai istilah dalam bahasa Inggris? 

Keputusan untuk menggunakan istilah 'gastro-colonialism' dalam bahasa Inggris untuk liputan-liputan yang diterbitkan untuk pembaca berbahasa Indonesia adalah keputusan yang strategis. Frasa bahasa Indonesia "penjajahan pangan" hampir tidak ada dalam hasil pencarian mesin pencari, oleh karena itu istilah bahasa Inggris digunakan sebagai gantinya.

"Kami menggugah orang-orang untuk memperhatikan dan bertanya tentang apa yang dimaksud dengan penjajahan pangan. Saya juga melakukan tweet sebuah gambar personil militer yang memberikan mie instan kepada warga Papua, dari aparat negara kepada warga yang terpinggirkan, yang merepresentasikan gastrocolonialism dalam bentuk yang ekstrim. Saya sudah menduga bahwa hal itu akan menjadi kontroversi, dan ternyata benar. Pada akhirnya, istilah ini dapat diperkenalkan dan orang-orang menjadi sadar," refleksi Arif.

“We intrigued people to pay attention and ask what gastrocolonialism is all about. I also tweeted a picture of military personnel giving instant noodles to local Papuans, from the state apparatus to marginalized citizens, which represents gastrocolonialism in its extreme. I had anticipated it would become a controversy, and it did. In the end, the term could be introduced and people are aware,” Arif reflected. 

Kiat-kiat dalam Meliput Gastrocolonialism

Meliput cerita tentang gastrocolonialism membutuhkan kepekaan dan rasa hormat yang tinggi. "Kami harus sangat berhati-hati saat melakukan wawancara dan mengambil foto. Salah satu caranya adalah dengan melakukan wawancara informal. Kami juga melibatkan para tetua desa untuk membantu kami menyebarkan pertanyaan dan menjelaskan informed consent," kata Arif. 

Berbaur dengan budaya dan adat istiadat setempat adalah kunci untuk memahami kehidupan dan situasi yang dihadapi oleh masyarakat setempat.

"Kami juga tinggal di desa mereka selama tiga minggu. Kami makan apa yang mereka makan, kami tidur di sana, kami mengikuti para pemuda yang berburu makanan meskipun tidak berhasil," tambahnya. 

Terakhir, ia menekankan bahwa jurnalis harus menyadari adanya relasi kekuasaan yang asimetris antara profesional media dan masyarakat yang mereka liput. "Jurnalis harus bertanggung jawab. Pikirkan bagaimana cara memastikan bahwa narasumber kita tidak akan menjadi rentan setelah pemberitaan kita, terutama untuk topik yang sangat kontroversial," tutupnya. 

RJF akan menyelenggarakan webinar tentang Gastrocolonialism. Daftar di sini. 

RELATED CONTENT