TEMPAT KAMI MELAPORKAN


Artikel Publication logo Agustus 27, 2022

Hutan Sipora yang Kaya

Negara:

Penulis:
An excavator machine is being driven around a forest.
bahasa Indonesia

Penyebab terancamnya primata dan keanekaragaman hayati akibat deforestasi

author #1 image author #2 image
Berbagai penulis
SECTIONS

Suasana Desa Saurenuk, Sipora Utara, Mentawai. Foto oleh Rus Akbar/TEMPO. Indonesia, 2022.

Hutan Sipora di Mentawai hilang karena penebangan besar-besaran. Tanaman obat ikut musnah.


Di kebun samping rumahnya, Gustaf Taikatubutoinan memetik sekuntum bunga simakkainuk putih yang sedang mekar. Ia juga memetik sembilan kuncup bunga simakkainuk alias bunga gandasuli. Di kebun tanaman obatnya itu, dia juga mengambil seruas kencur.

Pagi itu ia akan meramu obat sakit kepala untuk dirinya sendiri. Gustaf Taikatubtoinan adalah seorang ahli pengobatan di Desa Goiso Oinan, Sipora Utara, Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Di rumahnya, tumbuhan berkhasiat obat itu ia parut dengan gigiok, alat parutan dari sepotong pelepah enau yang berduri. 

Kencur dan bunga dihaluskan, aromanya yang wangi langsung tercium. Ia menuangkan sedikit minyak kelapa ke dalam ramuan itu. Setelah jadi, ramuan itu ia peras di atas kepalanya, diusap ke kening dan rambutnya. Sisa ramuan dimasukkan ke kain, lalu diikat ke kepala, sehingga ramuan tanaman itu tertempel di keningnya.


Sebagai organisasi jurnalisme nirlaba, kami mengandalkan dukungan Anda untuk mendanai liputan isu-isu yang kurang diberitakan di seluruh dunia. Berdonasi sesuai kemampuan Anda hari ini, jadilah Pulitzer Center Champion dan dapatkan manfaat eksklusif!


“Ini terasa dingin dan menyegarkan, sakit kepala saya akan segera sembuh,” kata Gustaf. Berbeda dengan sikerei, ahli tanaman obat di Pulau Siberut, Gustaf tidak lagi menggunakan ritual seperti menyanyi dan menari untuk berkomunikasi dengan roh seperti dalam ritual Arat Sabulungan, kepercayaan lama Mentawai yang percaya kepada roh-roh. Gustaf, kini berusia 64 tahun tidak lagi mempercayai Arat Sabulungan, tetapi ia hanya berdoa meminta kesembuhan kepada Tuhan sesuai kepercayaannya saat ini.

“Saya hanya berdoa dalam hati, kepada Tuhan Yesus, agar obat yang saya berikan bisa menyembuhkan,” kata Gustaf yang kini memeluk Protestan.


Suasana Desa Saurenuk, Sipora Utara, Mentawai. Foto oleh Rus Akbar/TEMPO. Indonesia, 2022.

Gustaf adalah ahli tanaman obat yang diandalkan warga di Goiso Oinan. Kakak tertuanya, Viktoria Taikatubutoinan juga dulunya semasa hidup adalah ahli pengobatan.

“Nenek moyang kami dulu adalah sikerei di Sipora, saya juga mendapatkan keterampilan obat ini dari mimpi, sama seperti seorang sikerei, dituntun untuk mengambil jenis tanaman obat yang saya butuhkan,” katanya.

Selain menanam di kebun sebelah rumahnya, Gustaf bisanya mencari tanaman obat ke dalam hutan di dekat kampungnya karena tidak semua tanaman obat bisa dibudidayakan. Terkadang ia harus jauh masuk ke hutan berjam-jam untuk mencari tanaman obat, karena hutan sudah banyak dibuka untuk perladangan.

“Ini sangat berbeda dengan 20 tahun lalu, hutannya dekat dengan kampung, saya tidak perlu jauh mencari tanaman obat,” ujarnya.


Di Pulau Sipora, seperti dua pulau di selatannya, Pulau Pagai Utara dan Pulau Pagai Selatan sudah tidak ada lagi kebudayaan sikerei dengan semua ritual Arat Sabulungan-nya.

 “Budaya lama itu sudah lama hilang sejak masuknya misionaris Kristen  ke Mentawai, lebih 100 tahun lalu, dan diteruskan oleh pemerintah Indonesia pada 1954,” kata Tirjelius Taikatubutoinan, kepala Desa  Saurenuk, desa tetangga Goiso Oinan.

Tirjelius mengenang, pada tahun 1970-an ia masih melihat sisa-sisa bangunan uma, rumah komunal Mentawai yang masih berdiri di Saurenuk, tapi tidak ditinggali lagi. Masyarakat pindah dari uma ke rumah-rumah kecil di kampung baru bentukan pemerntah. 

“Padahal uma itu rumah besar, kayunya terpilih dan bagus, dan itu dibiarkan hancur begitu saja,” katanya.

Betapapun mereka tak lagi menjalankan ritual-ritual lama, kesadaran akan pentingnya hutan adat dan tanaman obat tetap dijaga.

Di Saureinuk, terdapat lembaga adat yang dinamakan Uma Saureinuk. Salah satu tugas Uma Saureinuk adalah mengelola hutan adat.

“Hutan adat menjadi tempat tanaman obat yang sangat diperlukan oleh ahli pengobatan di Desa Saureinuk. Dulu tanaman obat mudah dicari, tetapi sekarang, karena banyak ynag rusak, para ahli pengobatan di sini harus jauh mencarinya ke hutan adat. Hutan adat itu sangat perlu dijaga. Kalau hutan sudah ditebang, tanaman obat juga akan lenyap,” kata Nulker Sababalat, pengurus Uma Saureinuk.

Pada 2019, masyarakat Sipora dibantu Aliansi Masyakarakat Adat Nusantara Mentawai metetapkan 5.000 hektare  hutan di Desa Saurenuk yang awalnya hutan produksi ditetapkan sebagai hutan adat dibawah pengelolaan Uma Saureinuk. 

Pada Kamis, 18  Agustus lalu, Uma Saureinuk mendapat penghargaan Wana Lestari dari Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Uma Saureinuk dianggap mampu mengelola ekosistem hutan.

Diantaranya dalam sistem perladangan. Pembukaan ladang oleh masyarakat masih dilakukan dengan tradisi kuno seperti yang dipraktikkan nenek moyang mereka dulu.  Pembukaan ladang baru  dimulai dengan penentuan lokasi. Mereka mencari tanah yang subur dekat dengan sumber air dan tempatnya tidak terlalu curam. 


Warga memetakan hutan adat Uma Saureinuk di Pulau Sipora Kepulauan Mentawai. Foto oleh Uma Saurenuk. Indonesia, 2022.

Setelah mendapatkan lokasi, barulah dilakukan pembersihan belukar.

Belukar hasil pembersihan tidak dibakar, melainkan dibiarkan di tanah sampai lapuk sendiri. Lahan tidak dibakar agar tanaman yang masih berguna seperti tanaman obat tidak ikut mati. Kemudian tanaman muda untuk kebutuhan pangan segera ditanam, seperti pisang, ubi, talas, keladi, palawija, sayuran, cabe dan jahe-jahean. Setelah akarnya tumbuh, barulah pohon besar mulai ditebang. 

Tetapi pohon yang diperlukan untuk membuat rumah dan sampan seperti pohon keruing, meranti, dan katuka tetap dibiarkan tumbuh. Untuk kehidupan sehari-hari, masyarakat hanya mengambil dari hasil ladang.

Di sepanjang sungai di hutan adat juga  penuh dengan pohon yang tidak boleh ditebang. Bagian hutan yang curam juga ada aturan tidak boleh ditebang. Selain itu juga ada aturan untuk masyarakat yang ingin mengambil pohon untuk bangunan rumah atau sampan. Ia harus mengganti pohon yang ditebang dengan menanam pohon buah-buahan ditempat itu.

Penebangan pohon tanpa izin akan diganjar sanksi yang lebih berat lagi. Setiap kubik kayu yang diambil harus diganti rugi sesuai dengan harga per kubik kayu dan ditambah dengan denda lain.

“Jadi untuk pencurian kayu, karena beratnya sanksi bisa saja tanah orang yang mengambil kayu itu yang harus menjadi gantinya,” kata Nulker. 

Perburuan binatang yang dilindungi juga tidak diperbolehkan lagi, seperti burung dan primata Mentawai.


Di sungai-sungai dalam hutan, warga Desa Goiso Oinan dan Saureinuk sampai sekarang masih membudidayakan toek sebagai sumber pangan. Toek adalah moluska yang hidup dalam sungai berair payau.

“Hutan masih menjadi sumber kehidupan bagi kami. Sungai di hutan adalah tempat memelihara toek sebagai sumber pangan yang penting,” kata Nulker Sababalat. 

Memasuki hutan, kita bisa melihat di setiap sungai dan anak sungai terdapat puluhan potongan kayu tumung yang terendam untuk sarang toek. Bahkan kayu yang terapung itu bisa dijadikan jembatan untuk menyeberangi sungai. Di sungai-sungai di Saureinuk dan Goiso Oinan setiap hari akan terlihat beberapa perempuan memanen toek. Potongan kayu besar yang telah direndam selama enam bulan siap Dibawa ke pinggir sungai dan dikampak untuk mengeluarkan toek dari dalam kayu yang telah menjadi sarangnya.


Perempuan di Desa Goisooinan Sipora Utara yang sedang memanen toek di sungai. Foto oleh Febrianti/TEMPO. Indonesia, 2022.

Toek berbentuk seperti cacing, berwarna putih dan berlendir, panjangnya sekitar 30 sentimeter. Ia memakan kayu yang menjadi sarangnya. Para perempuan memanen toeksambil memakannya.

 “Rasanya lebih enak kalau segar, daripada dimasak dulu, tinggal dibersihkan kepala dan sedikit kotorannya, langsung dimakan,“ kata Dian Novita, warga Goiso Oinan yang sedang memanen toek. 

Dian bersama empat temannya  membuka kayu toek yang keras dengan kampak dan menarik satu per satu hewan itu dari dalam kayu.

“Membuat toek ini pekerjaan perempuan, laki-laki hanya menolong mengambil pohon tumung untuk sarang toek dan menggulingkannya dari dalam hutan ke tepi sungai ini. Selanjutnya jadi pekerjaan kami kaum perempuan,” ujarnya.

Toek bisa dibudidayakan di sepanjang sungai, mulai dari muara hingga 10 kilometer ke perairan daratan, asalkan mendapat pasang surut air laut. Makin dekat ke muara, rasa toek semakin asin. 

Dian yakin toek yang paling bagus dan ukurannya besar-besar adalah toek dari Goiso Oinan, karena air sungainya tenang dan tidak terlalu dekat dengan laut. Selain untuk dimakan sehari-hari, toek juga jadi sumber pendapatan keluarga di Goisooinan dan Saurenuk.

“Yang jadi musuh budidaya toek adalah banjir, apalagi kalau airnya keruh, semua toek bisa rusak di dalam kayu,” kata Dian.

Penebangan hutan skala besar di hulu sungai Saurenuk dan Sungai Goiso Oinan yang terjadi sejak awal tahun 2022 membuat Dian resah. Sebab, banjir mulai sering datang.


SEJAK awal tahun lalu, hutan-hutan di garis pantai Pulau Sipora menghadapi ancaman penebangan besar-besaran. Sebagian hutan alam yang berada di kawasan areal penggunaan lain itu mulai ditebang para pemilik lahan dengan mengantongi izin hak akses yang dikeluarkan Balai Pengelolaan Hutan Produksi Wilayah 3 Pekanbaru. 

Namun bukan pemilik lahan yang melakukan penebangan di lapangan, melainkan investor kayu yang menggandeng mereka. Para pemilik kayu menjual setiap kubik kayu Rp25 ribu hingga Rp70 ribu kepada investor.

Penebangan sudah terjadi di Hutan Berkat, Desa Tuapeijat dan hutan di SP3 di Desa Bukit Pamewa. Lokasi ini menjadi hulu sungai Goiso Oinan dan Saureinuk.

“Sekarang banjirnya lain dari biasa, airnya keruh bercampur lumpur, hujan saja satu hari seperti sekarang langsung banjir,” kata Tirjelius Taikatubutoinan, kepala Desa Saurenuk.

Ia mengatakan masyarakat Saurenuk sangat tergantung dengan air sungai. Selain untuk budidaya toek, anak-anak sungai menjadi sumber air minum.

Pemodal penebangan kayu juga mulai mengincar hutan di Saureinuk. Mereka mendekati pemilik lahan. Sudah banyak pohon yang ditandai oleh pemodal kayu untuk ditebang.

“Bahkan di ladang saya, banyak pohon besar milik saya yang juga sudah ditandai kertas merah dan sebagai tanda siap tebang, saya tanya tidak ada yang mengaku melakukannya,” kata Tirjelius. 


Warga Saurenuk berpatroli di hutan adat. Foto oleh Uma Saurenuk. Indonesia, 2022.

Tirjelius resah. Sebab, selain kerusakan lingkungan, penebangan menyebabkan hilangnya tana,an obat dan terganggunya pasokan sumberb pangan mereka, juga memicu potensi pecahnya pertikaian antar suku setelah perusahaan kayu pergi.

Hal ini pernah terjadi pada tahun1990-an saat masuk perusahaan kayu yang menebang hutan masyarakat.

“Saat ada fee kayu, hidup elit saat ada uang. Saat perusahaan itu pergi, masyarakat kembali miskin dan hutannya habis, konflik sosial terjadi,” kata Tirjelius.

Jumlah konflik antar anggota keluarga juga meningkat. Sebab, ada yang menyerahkan lahan komunal tanpa persetujuan anggota keluarga lain.

“Pola ini kembali terjadi sekarang, harusnya masyarakat sadar dan tidak melakukan kesalahan itu kembali,” kata Tirjelius. 

Jumsen Sababalat, anak muda lain di desa Tuapeijat, misalnya, sangat terkejut saat prig ke ladangnya. Ia mendapati sudah banyak pohon besar di dekat ladangnya yang diberi kertas merah tanda siap ditebang.

“Semua tanda itu saya cabut. Saya akan menolaknya. Di sana ada ladang saya, anak sungai, dan air terjun. Saya akan mempertahankannya,” tutur Jumsen.

Robert Coy, yang tinggal di Desa Matobek, Sipora Selatan, mengatakan maraknya investor kayu yang ingin menebang hutan masyarakat juga sampai di rumahnya.

“Saya sudah menolak perusahaan kayu yang akan mengelola hutan di tanah kaum kami baru-baru ini. Mereka menawari kami uang Rp1 miliar, juga sepeda motor, tetapi kami tetap menolak karena hutan itu sangat penting bagi masa depan kami,”kata Robert.

 Menghadapi ancaman ini, Tirjelius memastikan Uma Saureinuk  sebagai pengelola hutan adat akan berupaya keras menjaga hutan tersebut. Hutan adat tidak akan bisa masuk ke rencana penebangan,

 “Aturan-aturan adat dalam pengelolaan hutan, penyelesaian sengketa lahan, sudah mulai kami jalankan lagi seperti dulu lewat lembaga adat. Ke depan, budaya Mentawai lama seperti membangun uma sebagai rumah komunal juga akan kami upayakan,” ucapnya.

RELATED CONTENT