TEMPAT KAMI MELAPORKAN


Artikel Publication logo Agustus 27, 2022

Menanti Pekikan Merdu Bilou Lagi

Negara:

Penulis:
An excavator machine is being driven around a forest.
bahasa Indonesia

Penyebab terancamnya primata dan keanekaragaman hayati akibat deforestasi

author #1 image author #2 image
Berbagai penulis
SECTIONS

Dua ekor Bokoi (Macaca Pagensis), di Hutan Berkat, Sipora, Mentawai, pada September 2021. Foto oleh Mateus Sakaliau/TEMPO. Indonesia, 2021.

Juni lalu, di ujung jalan masuk Hutan Berkat, Desa Tuapeijat, Pulau Sipora, Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, sebuah alat berat berwarna oranye tampak sedang bekerja. Alat itu menumpuk kayu gelondong yang baru dikeluarkan dari dalam hutan. Suara gergaji mesin yang memotong pohon juga terdengar meraung-raung dari hutan. Pada sore menjelang malam, aktifitas di dalam hutan itu baru berhenti.

Hutan Berkat dikenal sebagai  habitat empat primata endemik Mentawai yang berada di Pulau Sipora. Keempat primata endemik Mentawai itu adalah bokoi (Macaca pagensis), joja pagai (Presbytis potenziani), bilou (Hylobates klossii), dan simakobu (Simias concolor). Semua primata itu tinggal di dalam hutan di pohon yang berbeda. 


Sebagai organisasi jurnalisme nirlaba, kami mengandalkan dukungan Anda untuk mendanai liputan isu-isu yang kurang diberitakan di seluruh dunia. Berdonasi sesuai kemampuan Anda hari ini, jadilah Pulitzer Center Champion dan dapatkan manfaat eksklusif!


Jenis primata di Pulau Sipora sama dengan primata di Pulau Pagai. Dalam penelitian terbaru, ahli taksonomi primata memisahkan joja di Pulau Pagai dan Sipora  dengan joja di Pulau Siberut, karena perbedaan spesies. Begitu juga bokoi di Siberut berbeda spesies dengan bokoi di Pulau Pagai.

Ciri morfologi juga membedakan kedua jenis primata ini. Joja di Siberut cenderung berwarna gelap di bagian depan tubuhnya, sementara joja di Sipora dan Pagai mempunyai warna keemasan di dada. Macaca siberu memiliki ekor yang menggulung di ujung, sedangkan Macaca pagensis ekornya lurus. 


Burung Hantu Mentawai (Otus mentawai), di Pulau Sipora, Mentawai. Foto oleh Mateus Sakaliau/TEMPO. Indonesia, 2022.

Seperti tiga pulau lain di Kepulauan Mentawai, Pulau Sipora juga memiliki keragaman hayati satwa dan tumbuhan  karena sejarah geologi Kepulauan Mentawai yang unik. Diperkirakan 500 ribu tahun silam fauna dan flora kepulauan ini terpelihara dari perubahan-perubahan evolusi dinamis, seperti yang terjadi pada daerah lain di Paparan Sunda. Sebanyak 65 persen mamalianya endemis. Di samping primata di Hutan Berkat, Pulau Sipora , misalnya memiliki satwa endemis tupai terbang (Iomy sipora) yang langka. Juga burung hantu Mentawai (Otus mentawi), satu-satunya burung endemik di Kepulauan Mentawai.


 Juni lalu, pohon-pohon penting bagi primata Mentawai di Hutan Berkat sedang ditebang. Sedangkan pohon-pohon yang masih tegak sudah ditandai dengan kertas merah menunggu giliran ditebang.

Pagi itu, di Hutan Berkat terlihat pohon-pohon sudah tidak lagi rapat. Seekor bilou tampak di atas pohon tumung berembunyi di balik kerapatan daun. Lengannya yang panjang memeluk dahan. 

Siamang kerdil itu bulunya  hitam mengkilat. Bilou terkenal karena kemerduan pekikan suaranya setiap pagi. Pekikan tinggi dan merdu itu disebut sebagai  irama paling indah yang dikeluarkan mamalia. 

Bilou juga dianggap jenis ungko atau wau-wau yang paling primitif karena pekikannya yang sederhana yang diduga menyerupai pekik nenek moyang primata tersebut. Namun pagi itu bilou muda tersebut tidak bersuara. Ia berayun ke pohon lain. Bayangannya berkelebat hingga tak terlihat. Ia satu-satunya primata yang terlihat menghuni hutan hari itu.


Hutan Berkat tempat habitat primata di Sipora Utara, pada Juni 2022. Foto oleh Febrianti/TEMPO. Indonesia, 2022.

“Mungkin bilou itu yang tersisa di hutan ini, tidak bisa melarikan diri karena pohon-pohon untuk jalannya sudah jarang, banyak ditebang,” kata Mateus Sakaliau, pegiat konservasi di “Malinggai Uma” yang bersama Tempo ke Hutan Berkat. Dia mengungkapkan, setahun lalu saat berkunjung ke Hutan Berkat sangat banyak primata endemis yang bisa dilihat dengan mudah.

Tebangan pohon keruing dan meranti, pohon penting bagi primata itu terlihat sedang disusun oleh alat berat dalam tumpukan kayu gelondong yang akan dibawa truk  keluar dari hutan. Meranti adalah pohon penting bagi bilou. Kanopi paling atasnya, di tajuk pohon yang rimbun, menjadi tempat primata itu untuk tidur dan berlindung primata itu.

Tak jauh dari situ, aktivitas log pond di pantai terus berlangsung. Kapal ponton yang pada hari sebelumnya penuh muatan kayu terlihat siap berangkat membawa ribuan kubik kayu gelondong ke luar Mentawai. Satu kapal ponton lainnya yang kosong sudah bersandar di dermaga untuk menunggu muatan. Hampir semua pohon di atas diameter 30 sentimeter di kawasan Hutan Berkat sudah ditandai kertas merah yang ditempel di batangnya. 


Tupai terbang (Iomi sipora), di Sipora Utara, Mentawai. Foto oleh Mateus Sakaliau/TEMPO. Indonesia, 2022.

Pemilik hutan itu, Aser Sababalat, Warga Sipora Utara sudah mendapat  hak akses hutan dari Balai Pengelolaan Hutan Produksi Wilayah III Pekanbaru. Seluas 200 hektarte hutan di tempat itu telah ditebang sejak awal tahun.

Dosen Biologi Universitas Andalas Wilson Novarino mengatakan saat ini adalah masa paling penting menyelamatkan  keragaman hayati di Pulau Sipora yang terancam deforestasi besar-besaran.

Ia mengatakan, selain primata endemis,ada beragam subspesies di Kepulauan Mentawai, seperti burung dan anggrek dan banyak lagi yang belum diteliti.

“Janga sampai semuanya punah di masa kita, tanpa kita bisa melakukan apa-apa. Hutan di Sipora harus diselamatkan, banyak keunikan yang ada di sana,” tutur Wilson.

Menurut Wilson, hilangnya hutan akibat penebangan juga akan berdampak pada pangan masyarakat yang ada dalam hutan seperti buah durian, rambutan, kuini yang mengandalkan penyerbukan dari hewan yang ada di dalam hutan.

“Ketika hutan sudah dibuka, habitat hewan hilang, penyerbukan tidak ada lagi, durian akan berkurang, pangan berkurang dan terjadi krisis pangan, belum lagi krisis air bersih yang sekarang sudah terjadi di Pulau Sipora, itu akan menambah beban hidup masyarakat Mentawai  di sana,” kata Wilson Novarino. FEBRIANTI

Liputan ini mendapat dukungan dari Rainforest Journalis Fund yang bekerja sama dengan Pulitzer Center.

RELATED CONTENT