TEMPAT KAMI MELAPORKAN


Artikel Publication logo Oktober 19, 2022

Merajut Keragaman Hutan Hujan

Negara:

Penulis:
a yellow plant
bahasa Indonesia

Ancaman utama kerajinan Noken Papua adalah eksploitasi yang terus menerus sementara pertumbuhan...

author #1 image author #2 image
Berbagai penulis
SECTIONS

Pemandangan matahari terbenam di Danau Anggi Giji (Dana Laki-Laki) yang dikelilingi hutan tipe Sub Alpine. Di sekitar Cagar Alam Arfak terdapat danai kembar, Danau Anggi Giji dan Danau Anggi Gida (Danau Perempuan). Foto oleh Yuda Rehata Yudistira/National Geographic Indonesia. Indonesia, 2022.

Para perempuan mengangkut, memproses tegakan kayu menjadi helaian benang, dan merajutnya dengan ketekunan berhari-hari hingga berminggu-minggu.

Noken bukan hanya sekadar tas rajut, noken adalah semesta kedaulatan mama-mama Papua untuk bergulat dengan hidup dan menvatu dengan keperkasaan hutan hujan tropis.


TANAH PAPUA menjadi riuh pada Oktober 2021, dengan penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) XX. Di sepanjang trotoar jalanan utama Jayapura, ratusan mama-mama Papua menjajakan noken sambil memintal benang dengan alas paha dan merajut. Noken yang terdaftar sebagai Warisan Dunia pada 4 Desember 2012 ini, dijual dengan harga mulai ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Sebuah noken dari anggrek berwarna kuning keemasan ditawarkan dengan harga Rp1 juta hingga Rpio juta. Angka yang ditawarkan dan trotoar seperti paradoks. Namun, para perajin ini seperti keluarga. Jika ada dagangan laku sementara milik perajin lain tak laku, mereka akan berbagi keuntungan.

Tradisi merajut noken berbahan kulit kayu dibalut serutan batang anggrek ini berasal dari masyarakat adat Mee' Pago (kawasan Papua Tengah) dan La Pago (kawasan Papua Pegunungan Tengah). Menurut Agustina Y. S. Arobaya, peneliti anggrek dan dosen Universitas Papua, filosofi noken bagi masyarakat Papua layaknya rahim, amat kuat relasinya dengan perempuan. Dalam "Noken dan Perempuan Papua: Analisis Wacana Gender dan Ideologi" yang dipublikasikan di jurnal ilmiah kajian bahasa dan sastra Malanesia, Elisabeth Lenny Marit menyatakan bahwa noken Papua menjadi artefak yang melekat dengan perempuan Papua, dari lahir, hidup, hingga mati. Mama-mama menggunakan noken untuk menggendong bayi hingga anak balita di punggungnya, baik saat berladang mau-pun bepergian. Noken digunakan pula untuk mengangkut babi.

Sejatinya, semua bahan pembuatan apien diambil dari hutan. termasuk anggrek Diplocaulobium regale (Dondrobian repale) dan Diplocaulobium centrale (Dendrobium centrale). "Apabila diambil terus menerus, tentu saja makin langka apalagi dengan tekanan kon-versi hutan sebagai habitatnya. Sejauh yang saya tahu, belum ada pembudidayaan khusus untuk noken," terang Agustina.

Kisah noken ini pun membawa kami menyigi Cagar Alam Pegunungan Arfak di Kabupaten Pegunungan Arfak (Pegaf), Provinsi Papua Barat, didukung Pulitzer Center melalui Rainforest Journalism Fund.

SEPTERINA MANDACAN (42), warga Kampung Kwau, Distrik Warmare, Kabupaten Pegunungan Arfak, mengoordinasikan 90 mama di kampungnya untuk menganyam dan menjual noken. "Umur 18 tahun sudah mulai merajut noken," kata Septerina.

Keahlian merajut noken diwarisi secara turn temurun. Dulu para mama Kampung Kwau juga merajut noken dari batang anggrek. Kini, tidak lagi. Selain karena bahannya sulit didapat, penganyamannya cukup rumit. Septerina dan para mama di Kwau pun menggunakan aneka kulit kayu yang mudah didapat. "Kami menjual noken ke kota di acara besar.-Harganya dari Rp100 ribu, Rp150 ribu, hingga yang besar Rps0o ribu," kata Samuel Mandacan, suami Septerina.

Sekitar lima jam dari Kampung Kwau, terdapat Distrik Anggi, pusat pemerintahan Kabu-paten Pegaf. Hal yang menarik, masyakarat menanam Diplocaulobium regale untuk menghiasi tempat yang disakralkan, salah satunya kuburan. "Kami menanam karena bunganya bagus. Tumbuhannya gagah karena batangnya tinggi-tinggi," kata Yusak Inyomusi (62), Kepala Kampung Irai, Distrik Anggi.


Septerina Mandacan, wanja Kampung Kwau, Kabupaten Pegunungan Arfak sedang mengumpulkan bahan tumbuhan untuk membuat noken. Foto oleh Yuda Rehata Yudistira/National Geographic Indonesia. Indonesia, 2022.

Dendrobium regale di habitat alaminya, sebagai bahan noken. Perkiraan kasar kebutuhan serat batang anggrek untuk para perajin, dua ikat per bulan atau lebih, tergantung pesanan. Setiap ikat dihasilkan oleh dua rumpun anggrek ukuran besar yang tumbuh di alam. Foto oleh Yuda Rehata Yudistira/National Geographic Indonesia. Indonesia, 2022.

Nephentes maxima ialah salah satu jenis kantong semar (keluarga Nepentheceae) yang kami temukan di CA Arfak. Keragaman bentuk, warna, dan ukuran kantong jenis ini sangat tinggi. Foto oleh Yuda Rehata Yudistira/National Geographic Indonesia. Indonesia, 2022.

Bulbophyllum subpatulum, tumbuhan keluarga anggrek (Orchidaceae) ini diidentifikasikan oleh Jaap J. Vermeulen, ahli botani Belanda pada tahun 2002. Foto oleh Yuda Rehata Yudistira/National Geographic Indonesia. Indonesia, 2022.

Sebuah keterkejutan yang indah ketika kami menemukan rumpun Bulbophyllum muricatum, sedang mempersembahkan beberapa bunga. Tumbuh di lantai hutan beralaskan lumut tebal, anggrek ini memiliki kutil di seluruh permukaan bunganya. Foto oleh Yuda Rehata Yudistira/National Geographic Indonesia. Indonesia, 2022.

Di lembah, terdapat pepohonan tinggi dan rapat. Ketebalan lumut yang kami lalui ada yang mencapai satu meter.


Musa ingens lalah tumbuhan pisang terbesar dan tertinggi di dunia. Tingginya bisa sampai 30-35m, daunnya bisa menutupi kanopi hutan. Tumbuhan endemik Pegunungan Arfak ini memiliki buah yang kecil, hanya 10 sentimeter saja dan tidak lezat. Buahnya berbiji dan sepat. Masyarakat menggunakan pelepah batangnya untuk obat demam. Foto oleh Yuda Rehata Yudistira/National Geographic Indonesia. Indonesia, 2022.

Di sini, noken juga pernah menjadi alat untuk menggendong bayi dan babi, tetapi dalam ingatan Yusak, mungkin sebelum 1940-an. Leluhurnya juga menggenakan cawat dari anyaman batang anggrek. Kini setelah ada karung plastik, karung in dibentuk layaknya noken dan talinya diletakkan di kepala. Plastik menawarkan kepraktisan dan keawetan meski nilai-nilai yang tersemat jadi berbeda.


MELESTARIKAN ARFAK. Cagar Alam Pegunungan Arfak merupakan salah satu Kawaqsan Pelestarian Alam (KPA) di Provinsi Papua Barat, dengan luas kawasan 68.325 hektare serta 8 distrik (kecamatan). Peta oleh National Geographic Indonesia.

SETIDAKNYA, KAMI MENEMUKAN 20-an marga anggrek selama delapan hari di hutan yang jauh dari permukiman penduduk. Mulai dari anggrek berbunga besar seperti Phaius tankervillae (yang kini menjadi Calanthe tankervillae) hingga beragam anggrek berukuran beberapa milimeter dari marga Bulbophyllum.

Di cekungan dan lembah, terdapat pepohonan tinggi dan rapat. Ketebalan lumut ada yang mencapai semeter. Di area terbuka, kami menemukan Diplocaulobium regale melekat di bebatuan. BKSDA mengizinkan pengambilan hasil hutan utamanya yang terkait kepentingan adat, termasuk untuk pembuatan noken.

Ketergantungan dengan hutan untuk memenuhi kebutuhan hidup sangatlah tinggi. Pemaknaan terhadap penjagaan hutan pun diwujudkan dalam kearifan lokal. Hans Manda—penggerak ekowisata di Kampung Kwau—bersama masyarakat, menerapkan kearifan Suku Arfak khususnya Suku Hatam dalam mengelola relung ekologi igya ser hanjop—berarti berdiri untuk menjaga batas. UNESCO menetapkan igya ser hanjop sebagai warisan dunia pada 2016.

"Kami membagi wilayah hutan menjadi 4 zona yaitu Susti, Bahamti, Nimahamti, dan Tumti," terang Hans. Susti ialah kawasan permukiman dan perkebunan. Bahamti ialah batas hutan yang masih alami. Di Tumti—di atas 2.000m mdpl—ialah tempat masyarakat hanya boleh mencari bahan untuk atap rumah dari bahan pandan, tak boleh ada aktivitas lainnya.

CAGAR ALAM PEGUNUNGAN ARFAK menyisakan PR besar. Meski sudah banyak penelitian yang dilakukan oleh akademisi Universitas Papua, belum ada basis data yang memadai. Sementara itu, ancamannya semakin tinggi.

"Flora yang menjadi ikon CA Pegunungan Arfak yaitu pisang raksasa (Musa ingens)," terang Budi Mulyanto, Kepala BBKSDA Papua Barat. Fauna yang menjadi ikon kawasan ini ialah burung pintar atau namdur polos, parotia arfak, dan burung astrapia arfak (Astrapia nigra).

Budi menyebutkan ancaman terhadap habitat satwa ikonik tersebut yaitu pemekaran kampung yang terus berlangsung, klaim masyarakat terhadap hak ulayat, perburuan satwa liar, perambahan areal kawasan, dan pembalakan liar.

Pemekaran kabupaten yang dulunya bagian dari Kabupaten Manokwari, menghasilkan pembangunan infrastruktur pendukung yang tidak sedikit. Hutan beralih fungsi menjadi perkantoran dan rumah. Dilema hadir pada jalan dan bangunan yang dibangun membelah hutan.

Kawasan CA Arfak juga menyimpan logam mulia yang menarik minat penambang tradisional, baik warga lokal maupun luar daerah. Di dalam hutan, kami sempat tak sengaja memasuki area tambang. Apis, pemandu kami, segera mengajak kami menjauh. Sepanjang eksplorasi, selalu saja ada kekhawatiran. Namun Papua bagi kami adalah pesona sekaligus enigma.

RELATED CONTENT