TEMPAT KAMI MELAPORKAN


Terjemahkan halaman dengan Google

Artikel Publication logo May 10, 2021

Sang Penyerbuk Ekonomi dan Ekologi di Hutan Hujan Tropis Pekalongan

Negara:

Penulis:
A view of mountains in the Petungkriyono forest area, Indonesia.
bahasa Indonesia

Proyek

Mutualisme

Berbicara mengenai hutan tak bisa lepas dari fungsi dan keberadaannya. Acap kali hutan dianggap...

SECTIONS

Kelelawar yang ditangkap di hutan hujan tropis Petungkriyono, Pekalongan, Jawa Tengah. Dhana Kencana/IDN Times.

Pekalongan, IDN Times - Banyak yang mengidolakan, namun tidak sedikit yang tidak menyukai buah Durian. Buah khas wilayah tropis antara 23,5° Lintang Utara (LU) dan 23,5° Lintang Selatan (LS) itu memiliki ragam kandungan vitamin serta nilai gizi yang tinggi bagi kesehatan. Seperti vitamin C, B, potasium, zat besi, lemak sehat, serat, dan senyawa nabati.

Manfaat buah Durian antara lain menjaga saluran pencernaan, mengatasi sembelit, serta meminimalisir penuaan dini lantaran kandungan antioksidan yang tinggi dapat melawan radikal bebas. Selain itu, mampu meningkatkan daya tahan tubuh, mengatasi insomnia, dan mengontrol tekanan darah.

Buah Durian yang selama ini dituding merusak, justru menyehatkan jantung karena menurunkan kadar kolesterol jahat (LDL). Sebaliknya, beberapa orang malah tidak menyukai Durian karena bau menyengatnya.

"Durian punya aroma dan rasa yang belum tentu cocok bagi semua orang. Nutrisi buah Durian bisa mendukung kesehatan selama dikonsumsi dalam jumlah yang cukup. Meski terbukti memiliki beragam manfaat sehat, penderita diabetes perlu berhati-hati dengan buah Durian karena memiliki kadar gula yang tinggi sehingga berpotensi menyebabkan kadar gula darah naik," kata dr Muhammad Iqbal Ramadan melansir laman resmi Klikdokter, Jumat (7/5/2021).

Mengacu data Direktorat Perbenihan Hortikultura, hingga 2020, terdapat 104 varietas buah Durian di Indonesia yang resmi dilepas Kementerian Pertanian. Varietas pertama adalah durian Sunan yang dilepas tahun 1984 dan terakhir durian Serumbut pada 2019. 

Dari ratusan jenis itu, banyak varietas buah bernama latin Durio zibethinus tersebut yang belum dilepas dan tidak diketahui banyak orang. Salah satunya adalah durian Mendolo.

1. Durian Mendolo banyak tumbuh di hutan hujan tropis Petungkriyono

Sang Penyerbuk Ekonomi dan Ekologi di Hutan Hujan Tropis Pekalongan
Hutan hujan tropis Petungkriyono di Pekalongan, Jawa Tengah. Dhana Kencana/IDN Times.

Durian Mendolo merupakan buah khas Desa Mendolo, Kecamatan Lebakbarang, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah. Pohon-pohonnya banyak tumbuh di sekitar hutan desa tersebut, yang masih dalam satu bentang dengan hutan hujan tropis Petungkriyono.

Pengelolaan hutan di wilayah tersebut dikendalikan Perum Perhutani dibawah Kesatuan Pemangku Hutan (KPH) Pekalongan Timur melalui Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Karanganyar. 

Pohon Durian tumbuh secara alami--oleh hewan penyebar biji seperti musang, bajing, tupai--dan buatan--dari nenek moyang--di hutan sekitar Desa Mendolo. Masyarakat setempat kini membudidayakannya dengan sistem tanpa perawatan, sehingga meminimalisir aksi deforestasi hutan dan penebangan pohon.

2. Pemanfaatan HHBK Durian untuk kemaslahatan bersama

Sang Penyerbuk Ekonomi dan Ekologi di Hutan Hujan Tropis Pekalongan
Petani memanen durian dengan cara tradisional di Pekalongan, Jawa Tengah. Dhana Kencana/IDN Times.

Pohon Durian masuk sebagai tanaman serbaguna kategori Multi Purpose Trees Species (MPTS) atau yang mempunyai manfaat ganda. Pohon tersebut menghasilkan produk kayu dan produk bukan kayu seperti getah, daun, bunga, serat, buah.

Pemanfaatannya oleh masyarakat setempat diatur sebagaimana Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Permen LHK) Nomor P.77/MENLHK/SETJEN/KUM.1/10/2019 tentang Pemanfaatan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) pada Hutan Produksi dan Pemungutan Hasil Hutan Bukan Kayu pada Hutan Negara.

HHBK merupakan hasil hutan hayati baik nabati maupun hewani beserta produk turunan dan hasil budidaya kecuali kayu yang berasal dari hutan. Jenis HHBK yang diizinkan diambil masyarakat di sekitar hutan, mengacu beleid tersebut, antara lain madu, getah, rotan, kulit, buah, daun, serta tanaman obat, dalam volume dan jangka waktu tertentu.

"Masyarakat di sekitar (hutan) menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pengelolaan ekosistem hutan. Pengelolaan hutan sebagai penghasil HHBK menambah pendapatan mereka, dengan tetap memperhatikan faktor ekologi. Sistemnya berbagi (sharing) melalui Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM). Mereka memanfaatkan dan mengusahakan HHBK dengan tidak merusak hutan," kata ADM KPH Pekalongan Timur, Didiet Widhy Hidayat ketika ditemui IDN Times di kantornya, Rabu (11/11/2020).

3. Durian Mendolo tidak menggunakan setek

Sang Penyerbuk Ekonomi dan Ekologi di Hutan Hujan Tropis Pekalongan
Tarsono (45), petani durian asal Desa Mendolo, Pekalongan, Jawa Tengah. Dhana Kencana/IDN Times.

Masyarakat yang memanfaatkan HHBK antara lain warga Dukuh Mendolo Wetan. Sebanyak 46 petani dari daerah tersebut memiliki masing-masing 50--100 pohon Durian dengan ketinggian pada umumnya mencapai lebih dari 50 meter.

Mereka memanen Durian setiap tahun pada bulan Februari--April. Adapun, hasil panen per petani mencapai 500--600 buah, yang dijual dengan harga Rp10 ribu per buah.

"Durian Mendolo adalah durian lokal organik. Penanaman dan budidayanya tidak menggunakan setek, sebagaimana umumnya. Semua alami tanpa perawatan. Makanya rasanya manis, tidak ada kandungan obat atau bahan kimia sama sekali. Besar buahnya paling kecil berukuran 3 kilogram (kg)," kata salah satu petani Durian, Tarsono kepada IDN Times, Jumat (13/11/2020).

Pria berusia 45 tahun itu berkisah apabila kapasitas panen buah Durian miliknya mengalami penurunan setiap tahun. Kondisi tersebut sudah terjadi sejak 13 tahun terakhir atau pada tahun 2007.

4. Masyarakat masih percaya mitos terhadap Kelelawar

Sang Penyerbuk Ekonomi dan Ekologi di Hutan Hujan Tropis Pekalongan
Kelelawar yang ditangkap di hutan hujan tropis Petungkriyono, Pekalongan, Jawa Tengah. Dhana Kencana/IDN Times.

Tarsono menduga, penurunan hasil panen Durian merupakan dampak dari perubahan iklim dan cuaca ekstrem yang tidak menentu. Asumsi tersebut ditambah dengan stigmatisasi terhadap Kelelawar, yang dianggap merusak produksi buah Durian.

"Satu pohon biasanya bisa (panen) 300 buah. Semakin kemari semakin berkurang. Ya, faktor cuaca, kemaraunya sedikit, banyak (turun) hujan, sehingga buah tidak benar-benar masak. Saya lihat kemunculan Kelelawar juga suka merusak kembang (bunga) Durian sampai rontok. Jadi bunga-bunga ambrol, otomatis tidak berbuah," ujarnya yang sudah menjadi petani sejak berusia 15 tahun.

Para petani setempat tidak memburu atau membunuh Kelelawar meski dianggap merugikan bagi mereka. Salah satu pertimbangannya adalah mereka masih meyakini mitos jika memakan daging atau berburu kelelawar, rezeki akan kalong (red: berkurang). 

"Kelelawar dulu banyak beterbangan. Tapi akhir-akhir ini berkurang jumlahnya. Bukan karena perburuan. Saya juga tidak tahu, apakah karena cuaca atau faktor lain. Soalnya, masyarakat (Desa Mendolo) masih percaya mitos kalau makan Kelelawar rezekinya akan berkurang dan didatangi banaspati--sosok makhluk gaib yang berwujud api--sehingga mereka tidak berani memburu," tutur Tarsono.

5. Kelelawar dianggap sebagai perusak bunga Durian

Sang Penyerbuk Ekonomi dan Ekologi di Hutan Hujan Tropis Pekalongan
Bunga yang terdapat di pohon Durian di hutan hujan tropis Petungkriyono, Pekalongan, Jawa Tengah. Dhana Kencana/IDN Times.

Kelelawar adalah satu-satunya Mamalia--binatang menyusui--yang dapat terbang. Ada dua sub-Ordo hewan tersebut. Yakni Kelelawar besar pemakan buah, nektar, dan serbuk sari (Megachiroptera) dan Kelelawar kecil pemakan serangga (Microchiroptera).

Dari kedua jenis itu, masing-masing mempunyai fungsi dan peran yang berbeda. Megachiroptera memiliki kemampuan penglihatan tajam dan penciuman yang peka saat mencari makanan. Sedangkan Microchiroptera mempunyai kemampuan ekolokasi--mengenali lingkungan melalui gelombang suara--untuk menentukan arah terbang dan memburu mangsa.

Masyarakat awam Dukuh Mendolo Wetan membedakan Kelelawar berdasarkan ukurannya. Kelelawar besar kerap disebut dengan kalong. Kemudian Kelelawar berukuran sedang dijuluki lowo atau codot dan yang berukuran kecil adalah kampret.

Tarsono banyak mengenal dan menganggap Kelelawar sebagai hewan pemakan buah, berdasarkan cerita turun-temurun. Termasuk stigma terhadap satwa tersebut--sebagai perusak bunga Durian--terus melekat dalam pikirannya.

"Ada Kelelawar, malah kita menganggapnya sebagai perusak. Rata-rata petani di sini berpikiran seperti itu. Membuat bunga (Durian) ambrol, sehingga gagal berbuah dan panen sedikit. Saya juga tahu itu dari nenek moyang yang bilang begitu," tuturnya.

6. Kelelawar menjadi penyerbuk utama bunga Durian saat malam hari

Sang Penyerbuk Ekonomi dan Ekologi di Hutan Hujan Tropis Pekalongan
Buah Durian yang ada di hutan hujan tropis Petungkriyono, Pekalongan, Jawa Tengah. Dhana Kencana/IDN Times.

Ahli Kelelawar asal Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sungkono tidak menafikan jika para petani memersepsikan buruk Kelelawar sebagai pemicu menyusutnya produksi buah Durian mereka. Sejatinya, Kelelawar adalah penyerbuk utama pohon Durian sehingga dapat berbuah secara maksimal.

"Kelelawar lah yang mampu menyerbuki bunga Durian yang cuma mekar saat malam hari, karena sifatnya sebagai hewan nokturnal. Kelelawar akan menghinggapi dan meminum madu bunga Durian. Saat itulah penyerbukan terjadi, yaitu proses pemindahan serbuk sari dari bunga jantan ke putik bunga betina," katanya kepada IDN Times, Sabtu (8/5/2021).

Dari publikasi World Agroforestry yang diakses Minggu (9/5/2021), ada 150 jenis tumbuhan, baik yang bernilai ekonomi tinggi maupun tanaman rehabilitasi di kawasan kritis yang diserbuki Kelelawar. Seperti tanaman Mangga, Manggis, Aren, Alpukat, Nangka, Sirsak, Kelapa, Petai, Pisang, dan Rambutan.

"Petani Durian banyak yang mengeluhkan Kelelawar, suka merontokkan bunga Durian sehingga gagal atau panennya berkurang. Banyak yang tidak menyadari kalau Kelelawar berperan dalam meningkatkan perekonomian mereka. Makanya, persepsi, asumsi, dan anggapan yang selalu muncul menjadikan Kelelawar sebagai hama," tutur pria kelahiran Kabupaten Semarang itu.

7. Aktivitas kelelawar di hutan Petungkriyono diteliti IDN Times

Sang Penyerbuk Ekonomi dan Ekologi di Hutan Hujan Tropis Pekalongan
Tim peneliti menangkap Kelelawar di hutan hujan tropis Petungkriyono di Pekalongan, Jawa Tengah. Dhana Kencana/IDN Times.

IDN Times bersama Sungkono meneliti aktivitas Kelelawar di sekitar Dukuh Mendolo Wetan--tempat Tarsono tinggal--. Penelitian tersebut untuk membuktikan hewan tersebut mempunyai andil dalam penyerbukan buah Durian di hutan hujan tropis Petungkriyono, sehingga masyarakat setempat mendapatkan informasi yang utuh berdasarkan sains.

Sejumlah tantangan harus dihadapi Sungkono dan tim, yang dibantu tiga peneliti muda--Dita putri permatasari (28), Ahmad Saikhu Rifai (26), dan Frendi Irawan (28)--. Di antaranya pandemik COVID-19, kondisi hutan hujan tropis dataran rendah yang lembab serta basah, medan yang terjal disertai curah hujan tinggi, dan cuaca ekstrem di lokasi penelitian. Penelitian yang dimulai akhir November 2020 itu rampung pada akhir Februari 2021.

Tim menangkap sejumlah individu Kelelawar untuk dicek polen (serbuk sari) yang menempel pada tubuh, terutama di rambut bagian kepala. Mereka berhasil menangkap 5 individu Kelelawar menggunakan misnet (jaring kabut) berukuran 3x6 meter.

Dari lima Kelelawar yang tertangkap, diambil 3 jenis untuk diidentifikasi lantaran dua kelelawar lain mempunyai kesamaan tipe.

Tim mengidentifikasi dan mengambil sampel polen ketiga individu Kelelawar tersebut. Setelah proses identifikasi diketahui, ketiga Kelelawar diterbangkan kembali.

Adapun sampel polen dibawa ke Laboratorium Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, untuk diamati lebih mendalam menggunakan mikroskop dan optilab.

8. Penyerbukan Durian di hutan hujan tropis dilakukan Kelelawar

Sang Penyerbuk Ekonomi dan Ekologi di Hutan Hujan Tropis Pekalongan
Preparat sampel polen Kelelawar dari hutan hujan tropis Petungkriyono di Pekalongan, Jawa Tengah. Dhana Kencana/IDN Times.

Dari hasil observasi, tim menyatakan ada tiga jenis Kelelawar yang ditemukan. Yaitu Cynopterus brachyotisMacroglossus sp, dan Cynopterus minutus.

Ketiganya mempunyai persamaan karakteristik dan morfologi. Seperti lidah yang panjang dengan bentuk moncong lebih maju sehingga memudahkan mereka masuk ke bunga dan meminum madu di dasar bunga.

Polen yang menempel pada tubuh tiga individu itu ditemukan berasal dari buah Durian, sehingga mereka adalah Kelelawar penyerbuk buah Durian di wilayah Dukuh Mendolo Wetan, Desa Mendolo, Kecamatan Lebakbarang, Kabupaten Pekalongan.

"Dari karakter tiga jenis kelelawar itu, ketiganya penyerbuk durian. Kita juga ambil sampel polen dan kita buatkan preparat untuk diidentifikasi. Diketahui polen tersebut dari buah Durian dan terbukti bahwa mereka penyerbuk Durian. Itu sudah menjadi bukti kuat," urai Sungkono yang juga lulusan Jurusan Biologi UGM tahun 2018.

Pria berusia 30 tahun itu menambahkan, kondisi cuaca, terutama hujan memengaruhi daya jelajah mereka. Meski demikian, besar kemungkinan ketiga Kelelawar itu berasal dari roasting site (tempat bertengger) di sekitar dukuh tersebut. Sebab, daya jelajah terbang tiga Kelelawar tersebut dibawah 10 kilometer (km).

9. Kelelawar membawa manfaat ekonomi dan ekologi

Sang Penyerbuk Ekonomi dan Ekologi di Hutan Hujan Tropis Pekalongan
Kelelawar yang ditangkap di hutan hujan tropis Petungkriyono, Pekalongan, Jawa Tengah. Dhana Kencana/IDN Times.

Hasil penelitian diketahui bahwa Kelelawar berperan dalam menjaga rantai makanan ekologi di hutan Petungkriyono. Keterjagaan hutan dan agroforestri--buah dari konservasi--mampu menjadi sumber pakan alami Kelelawar sehingga melindungi ekosistem dan keanekaragaman hayati hutan hujan tropis tersebut.

Kelelawar menjadi kunci keberlangsungan hutan yang menyediakan udara dan air bersih. Hewan tersebut turut menjaga regenerasi sejumlah tanaman yang tumbuh di hutan hujan tropis karena sebagian besar tidak dapat menghasilkan bibit dan buah tanpa bantuan proses penyerbukan dari Kelelawar.

"Jadi ketika hutan terjaga, sumber pakan akan berlimpah, kehidupan Kelelawar dan hewan lain akan terpengaruhi. Kelelawar sebagai agen penyerbuk membawa nilai ekonomi bagi warga dan ekologi bagi lingkungan hutan. Komposisi hutan Petungkriyono akan terus bagus, tutupan kanopi terjaga, tidak hanya bagi tumbuhan yang bernilai jual tinggi, juga tanaman penahan air, penyimpan air tanah juga ikut lestari," ujar Sungkono.