TEMPAT KAMI MELAPORKAN


Terjemahkan halaman dengan Google

Proyek Agustus 17, 2022

Orang Rimba, Penjaga Bukit Duabelas

Negara:

Penulis:

Di tengah peradaban yang kian modern, keyakinan Orang Rimba akan “Bedewo” tetap hidup. Orang Rimba tak hanya menyembah leluhur, tetapi juga pohon bertajuk luas dan binatang karismatik.

Setiap bayi yang lahir akan dihadiahi tanaman pelindung pohon tenggeris (Scyma sp) untuk dirawat hingga sepanjang hidupnya. Ari-ari sang bayi dikubur di bawah pohon sentubung (Gonocaryum gracile). Kedua jenis pohon pelindung itu tidak boleh ditebang. Yang melanggar terkena sanksi adat terberat, “nyawo ganti nyawo.” Lewat kepercayaan itulah ikatan Orang Rimba pada alam menandai peran penting mereka menjaga rimba.

Turun temurun diwariskan satu seloka “Ado rimbo ado bungo. Ado bungo ado dewo.” Hutan dan seluruh isinya jadi alat menjalankan ritual. Mulai dari perkawinan hingga doa memohon kesembuhan mensyaratkan ratusan bunga dan hasil bumi.

Seluruh ritual itu kini sulit dilakukan karena alih fungsi hutan hujan di ekosistem Bukit Duabelas, Jambi. Deforestasi ekosistem Bukit Duabelas menyisakan 60.000 hektar dari semula 130.000 hektar dalam tiga dekade. Alih fungsi itu mengubah rimba raya menjadi kebun, jalan, dan permukiman.

Liputan ini akan mengangkat biodiversitas dan kearifan Orang Rimba yang menjaganya. Di tengah situasi menyempitnya hutan, bagaimana mereka bertahan? Kepunahan hutan hujan dapat berdampak pada kepunahan satu budaya dengan berbagai kearifan hidup di dalamnya.

Liputan ini merupakan kolaborasi tim Harian Kompas dan radio Orang Rimba Benor FM, yang berafiliasi dalam jaringan Radio KBR. Harapannya, selain mendorong komitmen pemerintah membangun kebijakan yang selaras, kolaborasi ini dapat memperkuat kesadaran generasi muda Orang Rimba mempertahankan kearifan yang dimiliki untuk terus menjaga rimbanya lestari.

Kolaborasi ini membawa hasil liputan untuk dituangkan dalam ragam plaform, cetak, online, featured video, dan audio.