TEMPAT KAMI MELAPORKAN


Terjemahkan halaman dengan Google

Artikel Publication logo June 24, 2021

Cerita 5 Dusun Kecil Jambi Tembus Pasar Karbon Dunia

Negara:

Penulis:
CNN Indonesia
Inggris

Since receiving the village forest permit, a community has formed a group to manage a forest area.

SECTIONS
Cerita tentang orang-orang desa yang turut andil memberikan napas panjang warga dunia dari hutan yang tersisa di Pulau Sumatera.
Deforestasi di Jambi. (Antara Foto/Wahdi Septiawan)

Jakarta, CNN Indonesia — Tarmizi ingat betul momen pertama kalinya penduduk desa mendengar istilah perdagangan karbon. Desa atau dusun Senamat Ulu, di Batin Tiga Ulu Kabupaten Bungo, Jambi bakal didatangi orang-orang dari Eropa yang akan mengangkut karbon-karbon itu dari hutan mereka.

Demikian di benak penduduk waktu itu, di masa awal LSM Komunitas Konservasi Indonesia WARSI menyosialisasikan potensi perdagangan karbon sekitar lima tahun lalu. Jangankan masyarakat, pemerintah daerah pun mulanya juga bingung tidak paham.

"Pemda malah menawarkan bantuan truk. Kalau dana karbon itu memang besar kita siapkan truk. Kita angkut itu karbon. Nyatanya karbon itu bukan itu," kenang Tarmizi, Datuk Rio Senamat Ulu, sembari terkekeh beberapa waktu lalu. Datuk Rio adalah sebutan kepala desa atau dusun bagi marga Batin di Jambi.

Belakangan Tarmizi dan warga dusun mengerti, perdagangan karbon ialah imbal jasa lingkungan. Kompensasi dari negara maju serta perusahaan yang menghasilkan emisi karbon dioksida melebihi ambang batas.

Kompensasi itu dibayarkan kepada mereka, juga komunitas yang menjaga hutannya. Karbon diserap pohon di hutan, untuk menghambat laju perubahan iklim.

Namun imbal jasa lingkungan itu tak selalu datang dari perusahaan atau negara industri penghasil emisi. Pembeli karbon juga bisa orang pribadi karena motivasi kesadaran lingkungannya. Di Eropa kesadaran itu lalu menjadi gaya hidup. Membeli karbon untuk memperingati hari lahir atau sebagai kado pernikahan.

Kini sudah lima dusun di Kecamatan Batin Tiga Ulu Kabupaten Bungo, Jambi berhasil menembus pasar perdagangan karbon internasional. Lima dusun itu, yakni Lubuk Beringin, Sangi Letung, Senamat Ulu, Laman Panjang, dan Sungai Telang.

Dusun-dusun ini terbentang di dalam kawasan hutan lindung Bukit Panjang Rantau Bayur atau Bujang Raba.

Berawal dari perjuangan mereka memperoleh hak kelola perhutanan sosial melalui skema hutan desa dari kementerian kehutanan. Dusun Lubuk Beringin yang pertama, pada 2009. Kemudian berturut-turut empat dusun lain, sampai mencapai luas total 7.291 hektare, 5.330 di antaranya adalah zona lindung.

Berdasarkan verifikasi lembaga sertifikasi karbon, Plan Vivo, lima hutan desa ini mampu menyerap 37 ribu ton karbon dalam satu tahun. Tutupan hutan masih utuh dan kaya vegetasi. Padahal sebelum dikelola sebagai hutan desa, Kawasan Bujang Raba merupakan hutan lindung yang level deforestasinya sangat mengkhawatirkan.

Cerita tentang orang-orang desa yang turut andil memberikan napas panjang warga dunia dari hutan yang tersisa di Pulau Sumatera.
 Ilustrasi hutan rusak. (Antara Foto/Fiqman Sunandar)

Kajian yang dilakukan KKI WARSI, analisis dari tahun 93 sampai 2013, laju deforestasinya 1,6 persen. Tanpa intervensi program konservasi, 5.330 area lindung hutan desa tersebut, diperkirakan akan menyusut hampir 600 hektare pada 2023.

Direktur KKI Warsi, Rudi Syaf, LSM yang mendampingi warga di lima desa tersebut mengatakan perambahan hutan, ekspansi perkebunan sawit dan tambang, mengancam kawasan itu.

"Hutan dirambah, kayu-kayu bernilai tinggi diincar, seperti meranti, tembesu dan kulim. Konflik terjadi, baik antara warga dusun dan perusahaan, maupun sesama warga," ungkapnya.

Warga tak ingin pengalaman buruk seperti periode 1990 sampai awal 2000-an sampai terulang. Masa-masa yang kelam bagi warga dusun, dimana adat istiadat hancur bersama rusaknya hutan. Diterjang banjir bandang di musim hujan dan dilanda kekeringan parah saat kemarau.

"Saya ke sekolah waktu itu tidak ada jembatan, bisa menyebarang sungai dari batu ini ke batu ini. Tanpa pakai sepatu. Karena keringnya. Selanjutnya terjadi banjir bandang menghantam, areal pertanian porang poranda," kenang Bakian, tokoh masyarakat.

Pun demikian si Mukhlis yang dulu pengepul kayu sekaligus mantan pembalak liar. Ia juga tersadar bertahun-tahun merasakan petaka akibat rusaknya hutan yang juga diakui ulah tangannya. Dia lalu memilih gantung gergaji mesin dan berbalik menjadi penjaga hutan.

"Dan untuk berhenti kami sudah menyadari. Banyak usaha lain selain berkayu. Kami tidak mati kelaparan kalau kami berhenti berkayu," tegas Mukhlis.

Restorasi ekosistem dilakukan secara total. Ekosistem air dijaga. Di saat pemerintah masih bergantung pada listrik yang dihasilkan dari sumber daya fosil, warga desa perlahan menciptakan kemandirian energi ramah lingkungan. Tak sepenuhnya bergantung pada PLN, yang pasokannya sering 'byar pet'.

"Hemat PLTMH (pembangkit listrik tenaga mikro hidro), bayarnya kurang (murah). Kalau PLN mahal. Kadang hidup, kadang tidak. Tadi malam saja mati. PLN sering mati," kata Nuraini, warga.

Lembaga sertifikasi karbon, Plan Vivo mensyaratkan, deforestasi tak boleh melebihi 25 persen. Namun warga berhasil menekannya, bahkan sampai nol persen sejak 2013. Kesabaran warga pun terbayar.

Pada 2018, sejumlah kalangan dari Eropa, membayar imbal jasa. Sampai 2021, lima dusun di Bujang Raba ini mendapatkan dana sebesar Rp2,4 miliar.

Kompensasi yang pantas mereka terima setelah bertahun-tahun berhasil menjaga hutan, menghentikan laju deforestasi.