TEMPAT KAMI MELAPORKAN


Artikel Publication logo September 9, 2021

Dilema Emas Bukit Mesel

Negara:

Penulis:
man riding a bike on a dirt road through the forest
bahasa Indonesia

Kawasan eks tambang emas PT Newmont Minahasa Raya (NMR) di Minahasa Tenggara, Sulawesi Utara telah...

SECTIONS

Emas hasil penambangan di Bukit Mesel, Manado. Foto: Finneke Wolajan.

Deretan pohon aneka jenis tumbuh teratur di Bukit Mesel Ratatotok, Minahasa Tenggara, Sulawesi Utara. Ada pohon jati, kayu manis, sengon, mahoni, jabon merah, linggua, dan ketapang air. Berdiri sejarak 3-4 meter, pohon-pohon itu menjulang 20-30 meter. Dilihat dari monumen penanaman, mereka telah berusia 25 tahun.

Luas Bukit Mesel kira-kira 221 hektare. Orang Minahasa Tenggara menyebutnya Kebun Raya Megawati Soekarnoputri, nama Presiden Indonesia kelima yang menjadi Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan—partai yang sama dengan Bupati Minahasa Tenggara James Sumendap. Pohon-pohonnya ditanami oleh PT Newmont Minahasa Raya sebagai bagian dari reklamasi tambang emas.

Reklamasi itu dimulai pada 1996, delapan tahun sebelum perusahaan dari Amerika Serikat ini menghentikan operasi. Selama 20 tahun, PT Newmont menggali bukit dan meninggalkan lubang yang kini menjadi danau berukuran 700 x 500 meter sedalam 135 meter. Hingga berhenti beroperasi pada 2004—tutup total pada 2016—PT Newmont diperkirakan mengangkut emas seberat 1,9 juta troy ons atau 65,1 ton. Jika harga 1 gram emas Rp 1 juta, Newmont meraup setidaknya Rp 65 triliun.

Berada di ketinggian 420 meter dari permukaan laut, jejak-jejak perusahaan tambang emas di Bukit Mesel itu berkurang. Jalan aspal membelah bukit yang telah menjadi hutan ini. Pengelola kebun raya, Pemerintah Kabupaten Minahasa Tenggara, mendirikan gedung baru untuk kantor pengawas.

Reklamasi tambang emas di sini menjadi percontohan reklamasi, meski kini menyimpan konflik sosial yang pelik dengan masyarakat sekitar. “Tahun ini menjadi reklamasi tahap ketiga,” kata Muchtar Wantasen, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Minahasa Tenggara. “Masih banyak area yang belum tertanami pohon.”


PADA Maret 2021, Kebun Raya Megawati hiruk-pikuk oleh lalulalang ratusan jip dan sepeda motor trail. Pandemi virus corona seakanakan tak menghentikan aktivitas di sini. Para pengemudinya memakai helm berlampu dengan baju penuh lumpur.

Polisi berseragam ataupun berpakaian preman yang berjaga di pintu masuk kebun raya tak menghentikan mereka. Penduduk dengan tubuh penuh lumpur itu adalah para penambang emas. Mereka menggali tanah di area kebun raya dan sekitarnya, mengais sisa emas yang belum tergali oleh PT Newmont.

Di dalam hutan kebun raya, mereka mendirikan tenda untuk merungkup lubang tambang emas sekaligus sebagai saung untuk beristirahat. Makin masuk ke dalam hutan, tenda terpal itu mirip rumah-rumah darurat penampungan pengungsi, lengkap dengan musik lagu nostalgia. Juga warungwarung kecil yang menjual aneka minuman dan jajanan. Warung-warung ini buka 24 jam untuk melayani kebutuhan makan para penambang.

Kendati penambang mengaku hanya menggali emas di luar area kebun raya, banyak lubang baru yang berada di sisi danau besar bekas penambangan Newmont. “Kami tahu batas kebun raya,” ujar seorang penambang. “Kami tak berani jika masuk ke sana.”

Pekerjaan menambang emas di Ratatotok umumnya turun-temurun. Penduduk mulai menambang di sini sejak zaman penjajahan Belanda pada awal 1900-an. Sewaktu PT Newmont datang pada 1984, penambang menyingkir karena masuk kawasan perusahaan tergolong ilegal. Mereka menggali bukit yang berada di luar konsesi Newmont.

Penduduk yang tersisih sejak Newmont datang lalu mengokupasi kembali Bukit Mesel, menggali emas yang tersisa setelah 2004, dengan alat pelindung diri seadanya. Menurut catatan Asosiasi Penambang Rakyat Indonesia (APRI) Minahasa Tenggara, kurang-lebih ada 40 ribu penambang rakyat di Ratatotok yang menggali emas di dalam kawasan kebun raya ataupun di luarnya. “Akhir tahun lalu kedatangan 15 ribu penambang,” kata Valdy Suak, Ketua APRI.

Para penambang tak hanya berasal dari Ratatotok atau Teluk Buyat, tapi juga dari semua penjuru Sulawesi Utara, bahkan hingga luar daerah. “Bahkan ada yang dari Surabaya dan Makassar,” kata Valdy, yang juga Ketua Aliansi Masyarakat Lingkar Tambang Ratatotok.

Selain menjadi pekerjaan turun-temurun, menambang emas dilakukan penduduk karena mereka tergiur penghasilan tinggi. Seorang penambang mengatakan, meski jalan bagus selama Newmont beroperasi, ekonomi mereka susah karena tak mendapat area penambangan dengan cadangan emas yang banyak. Sejak menambang emas kembali, mereka mengaku mendapat penghasilan melimpah.

Di Ratatotok ada tujuh titik yang mengandung banyak emas: Nibong, Rotan, Ogus, Lobongan, Limpoga, Pasolo, dan Alason. Sebagian besar kawasan tersebut masuk area PT Newmont Minahasa Raya, sehingga masyarakat tak bisa masuk ke sana untuk menambang emas sewaktu perusahaan ini masih beroperasi.

Kedatangan Newmont membuat masyarakat tahu pemakaian sianida agar emas yang mereka gali melimpah. “Dulu masyarakat memakai merkuri sehingga emasnya tak keluar,” ucap Valdy. Setelah era sianida, kawasan Nibong menjadi area paling banyak dikeruk.

Para penambang rakyat itu mengolah bijih emas di rumah pemilik lubang. Bijih emas yang mereka dapat itu dibakar memakai pemanggang tungku. Pemanggangan bijih emas selama sekitar satu jam, seperti tampak pada suatu hari di bulan Maret 2021.

Empat penambang menyerahkan bijih emas kepada seorang pemilik lubang tambang, Atid Paputungan, di Desa Buyat, Bolaang Mongondow Timur. Mereka adalah anggota kelompok penambang emas (rambang, yang beranggotakan 10 orang) yang baru pulang menggali lubang sehari-semalam. Mereka membawa 80 koli (karung berkapasitas 50 kilogram) berisi tanah yang mengandung bijih emas.

Kendati penambang mengaku hanya menggali emas di luar area kebun raya, banyak lubang baru yang berada di sisi danau besar bekas penambangan Newmont. “Kami tahu batas kebun raya,” ujar seorang penambang. “Kami tak berani jika masuk ke sana.

Setelah seluruh bijih itu dipisahkan dan dipanggang, emas terkumpul sebesar uang koin Rp 500. Beratnya 47,99 gram. Atid menghargainya Rp 770 ribu per gram. Pendapatan Rp 36.952.300 itu dibagi rata 12. Sebagai pemilik lubang, Atid mendapat dua bagian. Setelah dikurangi biaya mengolah Rp 75 ribu per koli, tiap orang mendapat bagian Rp 2.579.359.

Atid punya “karyawan” tiga rambang atau 30 orang. Ia memiliki satu lubang tambang di Nibong. Atid tergolong pendatang anyar karena baru memodali penambang rakyat tiga-empat bulan belakangan. “Ruginya sudah banyak, jutaan rupiah,” katanya. Atid mengaku lubang tambang miliknya berada di luar kawasan kebun raya sehingga tak memegang izin.

Dua bulan pertama ia menggeluti bisnis ini, lubang tambang yang ia beli tak ada hasil sama sekali. Modal yang ia keluarkan untuk membayar penambang habis sia-sia. Emas baru muncul pada bulan keempat. Kini penghasilan para penambang rata-rata satu karung per hari. Jika diolah, bijih itu menjadi 2-10 gram emas. Menurut Atid, satu pekerjanya bisa mendapatkan penghasilan mengolah emas yang ia bayar hingga Rp 10 juta sepekan.

Uang besar itu tak seimbang dengan pertaruhannya. Karena penambangan dilakukan secara tradisional, para penambang acap celaka, selain adu kuat persaingan antarpenambang. Atid tahu betul risiko ini. Untuk menghindari konflik, ia membikin jadwal buat para pekerjanya sehingga mereka tak berebut menambang emas di lubangnya.

Ada perjanjian antara pemilik lubang seperti Atid dan para pekerja. Jika seorang penambang celaka, Atid harus menanggung biaya pengobatannya. Jika si penambang meninggal, Atid harus membayar Rp 80 juta kepada keluarganya. “Ini akibat tak ada aturan,” tuturnya. “Coba jika pemerintah mengaturnya, penambangan emas rakyat bisa tertib dan menghasilkan pendapatan negara.”

Risiko celaka dan rentan konflik sosial juga disadari para penambang. Andi Puasa sudah menambang emas di Ratatotok selama 18 tahun. Laki-laki 31 tahun ini tergiur penghasilan besar seperti tetanggatetangganya, juga ayahnya. “Saya pernah hampir mati karena tertimbun di kedalaman 80 meter,” katanya.

Peristiwa 10 tahun lalu itu sempat membuatnya jeri. Andi kini sensitif pada suara retakan tanah longsor. Namun tuntutan ekonomi dan penghasilan menggiurkan membuat dia meneruskan pekerjaan itu hingga kini.

Seperti Andi, Gunawan Lasambu rela bertaruh nyawa di lubang-lubang bawah tanah mencari emas untuk menghidupi keluarganya. Terhitung sudah 25 tahun ia menambang emas sejak usia 17. “Hasil tambang ini jika kebetulan banyak bisa banyak sekali,” ujarnya.

Tanpa izin dan rawan kecelakaan membuat Pemerintah Kabupaten Minahasa Tenggara berkali-kali menertibkan para penambang ini. Dibantu tentara dan polisi, pemerintah menghalau para penambang angkat kaki dari Bukit Mesel. Bupati Minahasa Tenggara James Sumendap langsung memimpin penertiban itu dengan membakar tenda-tenda penambang. Namun penambangan tetap berlangsung.

Menurut Muchtar Wantasen, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Minahasa Tenggara, hingga Maret 2021 sudah tujuh kali dilakukan penertiban. “Ini memang dilema: ada sisi kemanusiaan karena emas menjadi andalan ekonomi masyarakat, tapi juga merusak lingkungan,” katanya.

Muchtar mengakui pemerintah kesulitan mencegah penambang masuk kawasan kebun raya karena hutan lindung ini amat luas. Masyarakat menciptakan jalan-jalan tikus untuk masuk ke dalamnya. Menempatkan penjaga di pintu masuk menjadi sia-sia karena penambang masuk ke sana melalui pintu lain. “Tak mungkin kami membentuk pagar betis,” ujar Komisaris Besar Jules Abraham, juru bicara Kepolisian Daerah Sulawesi Utara.

Untuk menyelesaikan konflik itu, Bupati James Sumendap menawarkan pembentukan koperasi yang mewadahi penambang rakyat. Sebab, Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang pertambangan mineral dan batu bara membolehkan pertambangan rakyat dengan kriteria cadangan logam maksimal sedalam 25 meter dan luas 24 hektare.

Pada 2017, pemerintah menerbitkan rencana tata ruang wilayah Minahasa Tenggara dengan menetapkan wilayah Kebun Raya Megawati sebagai area pertambangan. Bupati James Sumendap meminta masyarakat mendaftarkan koperasi untuk menaunginya. Sudah ada tiga perusahaan resmi yang menambang emas di sini. Pemerintah sudah menyetujui empat koperasi.

Valdy Suak menyambut baik regulasi ini. Menurut dia, koperasi adalah solusi jalan tengah bagi penambang rakyat. Dengan diatur, penambang bisa tertib dan pertambangan bisa dilokalisasi. “Masyarakat tak saling berebut dan pemerintah daerah bisa memungut retribusi,” katanya.

Meski begitu, izin baru koperasi belum terbit lagi hingga kini. Menurut Valdy, sudah dua tahun belum ada izin baru koperasi penambang rakyat. Akibatnya, penambang liar datang menggali Bukit Mesel, dengan risiko celaka dan kucing-kucingan dengan petugas.

RELATED CONTENT