TEMPAT KAMI MELAPORKAN


Terjemahkan halaman dengan Google

Artikel Publication logo June 25, 2021

Dana Karbon dan Pohon-pohon Harapan di Sudut Hutan Jambi

Negara:

Penulis:
CNN Indonesia
Inggris

Since receiving the village forest permit, a community has formed a group to manage a forest area.

SECTIONS
Warga mendapatkan berkah dengan menjaga hutan di Desa Durian Rambun, Jambi setelah sebelumnya rusak karena aktivitas bisnis besar.
Ilustrasi hutan. Antara Foto/Wahdi Septiawan. Indonesia.

Jakarta, CNN Indonesia — Namanya Desa Durian Rambun di Kecamatan Muara Siau Kabupaten Merangin, Jambi. Tidak mudah untuk mencapai Desa paling ujung ini.

Dibutuhkan waktu setidaknya 10 jam dari pusat kota Jambi. Kami bahkan harus menginap satu malam di pusat kota Bangko sebelum mencapai Desa Durian Rambun. Jalan yang akan ditempuh terjal, berkelok, dan berbatu.

Berbeda dengan lima dusun di Kawasan Lindung Bujang Raba, warga Desa Durian Rambun bertahun-tahun hidup dalam bayang-bayang kehancuran ruang hidup. Hutan mereka dikuasai perusahaan multi nasional pemegang izin hak penguasaan hutan atau HPH.

Pada 2006, warga desa menggelar demonstrasi besar-besaran mendesak hutan adat mereka dikembalikan ketika masa izin perusahaan habis pada 2008.

Namun, warga harus berhadapan lagi dengan perusahaan baru yang ingin menguasai izin hutan di kawasan yang sama untuk dijadikan hutan tanaman industri.

"Jelasnya sungai-sungai rusak, ekosistem rusak. Masyarakat beranggapan harus mampu merawat kawasan ini secara arif dan lestari. Salah satu kekuatan kita untuk bisa mengelola kawasan ini secara baik, kita harus mempunyai izin yang legal," ujar Abton, tokoh pemuda desa.

Menolak dikuasai perusahaan lagi, warga bergegas mengajukan hak kelola perhutanan sosial dengan skema hutan desa. Bertahun-tahun berjuang, akhirnya pada 2011, pemerintah memilih memberikan hak kelola hutan desa seluas 4.484 hektare kepada warga Desa Durian Rambun.

"Kalau hitungan jangka pendek mungkin lebih menguntungkan kita berikan kepada perusahaan. Tetapi kita berpikir pada jangka panjang, dan topografinya yang berbukit-bukit jadi rentan sekali kalau kita berikan kepada pihak swasta," ungkap Ahmad Bestari, Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Jambi.

Setelah beroleh status sebagai Hutan Desa, warga membentuk tim patroli sendiri untuk memastikan semua hal yang dilarang di hutan, tidak terjadi. Anton lantas menunjukkan bekas jalan setapak akses masuk hutan yang dibuka perusahaan.

"Jalan ini, merupakan bekas jalan yang dibuka PT Injapsin. Di tahun 2005 mereka membuka jalan untuk mengambil hasil kayu di kanan kiri jalan ini," ungkapnya.

Akhirnya wilayah gundul yang ditinggalkan perusahaan sekitar 35 hektare, mereka tanami lagi. Abton juga menunjukkan, pohon-pohon yang ditanam para leluhurnya. Salah satunya sebuah pohon kepayang berukuran besar berusia 80 tahun.

Diameter pohon sekitar 1 meter. Bisa dibayangkan, butuh waktu berapa lama untuk mengembalikan hutan yang digunduli.

Warga mendapatkan berkah dengan menjaga hutan di Desa Durian Rambun, Jambi setelah sebelumnya rusak karena aktivitas bisnis besar.
Ilustrasi hutan. (Antara Foto/Syaiful Arif)

Pohon-pohon besar berhasil diselamatkan sehingga tetap kokoh sebagai kanopi hutan. Adat mengatur mana wilayah terlarang atau lindung dan mana wilayah pemanfaatan. Di wilayah pemanfaatan warga bisa bercocok tanam. Mereka juga mengolah sawah secara organik.

Tanpa pupuk kimia, pestisida, bahkan tanpa irigasi. Berkahnya, di masa pandemi, pasokan pangan bagi penduduk desa relatif aman. Sawah mereka kerjakan dan dinikmati bersama.

Kayu manis juga menjadi komoditas warga. Pohon ini termasuk lestari. Tunas baru akan tumbuh tepat di badan pohon yang ditebang. Kulit kayu mereka jual, batang pohonnya mereka manfaatkan untuk pondok di ladang. Selain mengupas kulit kayu manis, kopi menjadi penopang ekonomi warga.

Dengan zona lindung seluas lebih dari 2.500 hektare dan zona rehabilitas mencapai 1.100 hektare, kawasan ini mampu menyerap karbon 6.618 ton per tahun. Meski tak sebesar lima dusun di Kawasan lindung Bujang Raba, Warga desa ini mendapatkan dana imbal jasa karbon sebesar Rp150 juta per tahun.

Hasil sebesar itu, cukup memodali sejumlah usaha, salah satunya adalah kelompok usaha bersama perempuan desa. Mereka mengelola lahan, memanen, sampai mengolah biji kopi menjadi kopi siap seduh sebagai usaha kolektif.

"Dengan adanya dana karbon itu, kami dapat produksi kopi. Hasilnya ada peralatannya, rumahnya untuk produksi kopi, dan alhamdulillah hasil dari kopi ini kami bisa beli kebun sendiri," kata Susilawati, perempuan penggerak usaha bersama.

Lebih dari 230 warga desa mendapatkan manfaat kebaikan hutan secara adil. Hutan yang mereka jaga, juga memastikan hulu Sungai Batanghari mengalir sampai ke Sungai Mesai dan Batang Nilo. Ini yang menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat lain di kawasan hilir.

RELATED CONTENT