TEMPAT KAMI MELAPORKAN


Terjemahkan halaman dengan Google

Artikel Publication logo Mei 18, 2022

Kebun Dikerangkeng Ternak Dibebaskan

Negara:

Penulis:
A man measures and examines plants using a stick while squatting in the rainforest.
Inggris

The Herman Johannes Forest Park has an area of 1,900 hectares. It is located in 12 villages and four...

SECTIONS

Warga menunjukkan tanaman mangga yang rusak akibat dimakan ternak sapi, kawasan hutan di Tahura Herman Johannes di Sonraen, Kecamatan Amarasi Selatan, Kupang, NTT. Foto oleh Palce Amalo. Indonesia, 2022.

Joni Tabun berjalan di depan untuk menyingkirkan semak dan ranting pepohonan yang melintang di jalanan setapak. Dia satusatunya bekas anggota Kesatuan Resor Pengelolaan Hutan (KRPH) Tahura Prof Ir Herman Johannes yang rumahnya ada di dalam kawasan hutan. Jalan setapak itu menghubungkan jalan utama yang beraspal menuju lokasi penanaman pohon dan tanaman hortikultura di bagian hutan yang penutupan vegetasinya didominasi semak dan pepohonan yang jarang.

Ini merupakan program pelestarian hutan dengan melibatkan masyarakat dari desa-desa di sekitar hutan. Warga dibagi dalam beberapa kelompok kemudian diberikan benih untuk menanam.


As a nonprofit journalism organization, we depend on your support to fund journalism covering underreported issues around the world. Donate any amount today to become a Pulitzer Center Champion and receive exclusive benefits!


Lokasi yang berjarak sekitar 100 meter dari jalan utama diperuntukan untuk penanaman pohon trembesi (Samanea saman). Di sebelahnya ada lokasi penanaman mangga yang menggunakan teknik budi daya grafting, varietas batang atas mangga jenis arumanis dan varietas batang bawah adalah mangga jenis madu. Trembesi dan mangga sama-sama ditanam sejak 2021. Kelompok masyarakat lainnya bertugas menanam mahoni, beringin, nangka, dan lamtoro tarramba di lokasi yang berbeda.

Namun, yang ditemukan Joni di luar dugaan. Trembesi tumbuh subur, tetapi seluruh tanaman mangga yang didatangkan dari Pasuruan, Jawa Timur, itu mati karena dimakan sapi. Itu satu contoh dampak dari penggembalaan liar di dalam kawasan hutan. “Ternak dilepas pada malam hari, masuk ke hutan dan memakan tanaman,” kata Joni Tabun.

Penggembalaan bebas

Maklum saja, sejak kawasan ini beralih pengelolaan ke Pemerintah Kabupaten Kupang tidak ada lagi petugas di sana, termasuk Joni yang dimutasi menjadi pegawai di kantor.

Tidak ada pengawasan, apalagi sanksi membuat perlanggaran berulang di hari yang lain.

Peternak menganut sistem penggembalaan bebas. Ternak dilepas merumput di padang, tidak terkontrol sehingga mudah masuk ke kebun atau hutan. “Di sini kebun yang dikerang-keng, ternak yang keluar mencari makan. Di luar negeri, ternak yang dikerangkeng,” ujar dosen Fakultas Pertanian Universitas Nusa Cendana, Nikson Rammang.

Namun, persoalan ini bisa dicegah dengan metode silvopasture, yakni menanam tanaman yang membatasi hutan dan permukiman penduduk, tumbuh-tumbuhan di dalam hutan aman dari gangguan ternak.

Terlebih setelah dokumen pengelolaan tahura disahkan tahun ini, bakal dilanjutkan dengan rehabilitasi areal bekas penebangan pohon, serta lahan kritis dan lahan agak kritis yang menempati 28,1% atau 572,65 hektare dari total luas hutan.

Dengan begitu, tidak berlebihan muncul sebuah harapan baru bagi Tahura Prof Ir Herman Johannes. Dari sebuah kawasan yang berhulu tujuh daerah aliran sungai (DAS), 14 mata air, 70 flora an 14 fauna ini tetap terjaga dan lestari. (N-1)