TEMPAT KAMI MELAPORKAN


Artikel Publication logo February 28, 2021

Membendung Kayan

Negara:

Penulis:
The shore of the Sungai Kayan river in Kalimantan, Borneo. Image courtesy of Shutterstock. Indonesia, date unknown.
bahasa Indonesia

Pembangunana megaproyek PLTA senilai US$22,5 miliar di Sungai Kayan, Kalimantan Utara berpotensi...

SECTIONS

Di Desa Long Peleban, Kalimantan Utara, waktu seperti berjalan lambat. Empat ratus orang warganya hidup tanpa fasilitas modern yang memadai. Tidak ada sinyal seluler, tidak pula jaringan listrik. Genset milik desa cuma beroperasi saat matahari tenggelam hingga pukul 9 malam.

Desa ini mulai dihuni sejak 1920-an silam, ketika orang-orang Dayak Kenyah bermigrasi dari hulu sungai di pedalaman belantara Kalimantan ke wilayah desa sekarang. Mereka beranak-pinak, bertahan hidup dari hasil hutan, kebun dan sungai. Seratus tahun kemudian, desa ini tak banyak berubah. Teknologi rupanya masih jadi barang langka.

Long Peleban dikepung kawasan hutan lindung dan hutan industri. Jalan darat masih berupa semak belukar. Satu-satunya akses yang tersedia cuma melalui batang Sungai Kayan. Menggunakan kapal cepat, paling banter butuh waktu 4 jam dari ibukota provinsi Tanjung Selor. Isolasi geografis jadi alasan utama mengapa Long Peleban sangat tertinggal.

Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) bisa jadi solusi masuk akal bagi desa seperti Long Peleban. Proyek semacam ini sudah diterapkan di kawasan terpencil lain di pedalaman Kalimantan. Long Punjungan di hulu Sungai Kayan misalnya, kini berdikari listrik berkat PLTMH.

Namun, alih-alih membangun pembangkit mikrohidro, pemerintah justru mencanangkan proyek yang lebih besar. Aliran Sungai Kayan bakal dibendung guna memanen listrik. Ada lima bendungan yang akan dibangun dengan total kapasitas 9.000 megawatt. Jika terealisasi, ini akan jadi PLTA terbesar di Asia Tenggara.

Yosep dan warga Long Peleban lain tak punya pilihan selain pindah. Sebab bersama Long Leju, kedua desa ini akan ditenggelamkan untuk proyek PLTA.

Benteng Terakhir Hutan Borneo

Meliuk-liuk bak ular raksasa, Sungai Kayan mengalir sepanjang 476 kilometer membelah hutan hujan Kalimantan. Hulunya ditandai oleh jeram-jeram setinggi rumah di Long Ampung, Malinau Selatan hingga bermuara di Laut Sulawesi. Selama ratusan bahkan ribuan tahun, Sungai Kayan jadi jalur transportasi utama. Warga desa biasanya menggunakan ketinting, perahu kayu berporos panjang, untuk mengangkut hasil panen atau sekedar mengunjungi wilayah sekitar. Ponton-ponton jumbo yang menggendong gelondongan kayu juga biasa hilir mudik. Sungai Kayan semacam jalan tol alami tempat orang bermigrasi.

Dengan kawasan seluas 28.673 kilometer persegi, Daerah Aliran Sungai (DAS) Kayan jadi salah satu area DAS terluas di Indonesia. Ia menopang hajat hidup orang banyak sekaligus menjadi rumah bagi flora endemik dan sejumlah mamalia besar.

Meskipun tercerai berai oleh hutan industri dan hak guna usaha (HGU) kelapa sawit, sebagian besar hutan tropis di DAS Kayan masih sangat terjaga.

Kawasan DAS Kayan menyimpan keanekaragaman hayati yang tinggi. Tegakan hutan primer dan sekunder masih menyelimuti sebagian besar wilayah, dilengkapi oleh berbagai jenis tanaman epifit dan vegetasi tumbuhan bawah. Keberadaan epifit seringkali dijadikan salah satu indikator hutan hujan tropis yang sehat

Tidak hanya itu, sejumlah mamalia besar juga masih hidup bebas di wilayah ini. Meski sangat jarang, warga lokal masih bisa menjumpai beruang madu, rusa sambar, dan macan dahan. Primata seperti kera ekor panjang dan lutung dahi putih biasanya lebih mudah ditemukan.

Pada 2013, spesies baru kukang ditemukan di kawasan ini. Hewan nokturnal ini lantas diberi nama kukang kayan (Nycticebus kayan) serta dianggap berbeda dari spesies kukang borneo (Nycticebus menagensis). Keberadaan flora dan fauna ini turut memberikan maslahat bagi masyarakat sekitar. Warga misalnya, biasa memanen sarang burung walet yang hidup liar di sepanjang aliran sungai dan lereng-lereng hutan.


Ragam flora & fauna di Daerah Aliran Sungai (DAS) Kayan

Lumbung Protein

Aroma harum ikan dan rempah menyerbu dapur milik Yosep Angit. Malam itu, pertengahan Desember 2020, Yosep mengundang kami mencicipi hidangan lokal berupa ikan kuah kuning yang menggugah selera. Istri Yosep yang jadi juru masaknya menumbuk daun bekai (Pycnarrhena tumefacta Miers) untuk dicampur dengan kuah kuning kental. Sejak lama, daun bekai sudah digunakan masyarakat Dayak sebagai vetsin alami.

IIkan baung yang jadi menu utama itu baru ditangkap dari Sungai Kayan beberapa jam sebelumnya. Sayur daun singkong juga dipanen di kebun tak jauh dari desa. Meskipun lokasinya terpencil, warga Desa Long Peleban berdikari dalam hal pangan. “Hanya beras saja yang kami beli dari luar,” cerita Yosep.

Sungai Kayan berperan penting sebagai lumbung protein. Baung, saluang, atau patin biasa disantap warga untuk dikonsumsi. Penelitian yang dilakukan oleh Abdul Jabarsyah, Rektor Universitas Kalimantan Utara, pada 2019 menemukan ada sekitar 40 spesies ikan yang hidup di Sungai Kayan. "Perkiraan kasar ada sekitar 50 spesies lagi yang belum diidentifikasi," ujarnya.

Beberapa spesies masuk kategori merah dalam daftar IUCN. Ini misalnya ikan sidat borneo (Anguilla borneensis) yang kini dianggap rentan punah. Ada juga ikan lele raksasa (Bagarius yarelli) yang juga masuk dalam kategori rentan.

Guru besar di bidang perikanan ini mengkhawatirkan soal perubahan pola migrasi ikan, penurunan debit air, hingga intrusi air laut. “Perlu kajian serius dan mendalam untuk mengurangi dampaknya terhadap ekosistem sungai,” tegas Jabar.

Gurita Proyek Tiongkok

Megaproyek PLTA Kayan dikerjakan oleh PT Kayan Hydro Energi (KHE), konsorsium perusahaan lokal dan China dan menjadi bagian penting program Belt and Road Initiative di Asia Tenggara. Central Asia Capital Ltd. menjadi pemegang saham terbesar di KHE dengan porsi 44,5%. Perusahaan lokal diwakili oleh PT Indonesia Great Power dengan porsi saham 30%. Ia bukan pemain baru di industri energi di Indonesia. Sebanyak 80% saham PT Indonesia Great Power dimiliki oleh PT Leeman Indo Asia, di mana salah satu komisarisnya adalah Indriani Tanu Tanto yang saat ini menjabat sebagai Vice Manager General Affair PT General Energi Bali, operator PLTU Celukan Bawang.

Ide memanen listrik dari Sungai Kayan sudah didengungkan sejak 2010. Dua tahun kemudian, PT KHE mengantongi Izin Lokasi dan Izin Prinsip dari Pemerintah Kabupaten Bulungan. Ada 190.600 hektar lahan yang diperuntukkan bagi proyek ini. Sebagian besar masuk dalam status Hutan Produksi Terbatas (119.320 hektar), Hutan Lindung (45.918), dan Area Penggunaan Lain (9.407 hektar).

Pada 2013, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral saat itu Jero Wacik mengumumkan keterlibatan China Power Investment dalam proyek senilai US$24 miliar (sekitar Rp350 triliun) ini.

Dengan skala sebesar itu, PLTA Kayan menjadi salah satu proyek infrastruktur paling ambisius di Indonesia. PT KHE berencana membangun lima bendungan di Sungai Kayan dengan kapasitas total 9.000 megawatt. Bendungan I yang berkapasitas 900 MW diperkirakan selesai dibangun pada 2025. Sementara bendungan sisanya akan dibangun bertahap hingga 30 tahun mendatang.


Tinggi 5 rencana bendungan PLTA Kayan.

Khaerony, Direktur PT Kayan Hydro Energy mengklaim perusahaan sudah mengantongi sebagian besar persyaratan perizinan baik dari pemerintah daerah maupun pemerintah pusat. Ia menegaskan saat ini pihaknya tinggal menunggu perpanjangan izin kawasan hutan. Sementara izin konstruksi dari Kementerian Pekerjaan Umum sudah diperoleh.

Kala kami berkunjung ke lokasi pada awal Desember 2020 silam, aktivitas proyek belum nampak terlihat. Hanya ada empat buah gudang kontainer tanpa satupun petugas yang berjaga. Kendati demikian, pembangunan PLTA diklaim masih berjalan sesuai rencana. “Saat ini kami sedang dalam progres pembuatan gudang bahan peledak dan pengurusan peledakan. Setelah izin dan gudang selesai, kami melakukan pekerjaan peledakan pembuatan jalan menuju ke titik bendungan,” ujarnya melalui surat elektronik.

Pandemi Covid-19 memang sempat membuat progres pengerjaan konstruksi terhambat. Khaerony mengakui tantangan utama pembangunan PLTA Kayan ada di faktor geografis. Aksesnya yang terisolir membuat mobilisasi peralatan dan logistik harus melewati jalur sungai sebab jalan darat belum bisa dilintasi kendaraan berat.

Kendati pekerjaan pembangunan PLTA belum dimulai, para ahli mulai mengkhawatirkan soal dampaknya terhadap ekosistem dan masyarakat adat yang hidup di sekitarnya. Wilayah DAS Kayan secara turun temurun dihuni oleh masyarakat adat Dayak yang kini sudah bercampur baur dengan para pendatang.

Di sisi lain, jika mengacu pada rasio elektrifikasi yang dirilis PLN, pembangkit dengan kapasitas sebesar ini sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan. Hingga 2020, rasio elektrifikasi di Kaltara mencapai 99%. Sebanyak 1% sisanya merupakan desa-desa seperti Long Peleban yang memiliki hambatan akses infrastruktur dan jaringan.

Menurut Wahyu, pembangkit tenaga kecil seperti PLTMH sebenarnya lebih cocok dibangun di daerah yang tidak terjangkau jaringan listrik. Selain lebih ramah lingkungan, PLTMH juga relatif lebih murah baik dari sisi pembangunan maupun pemeliharaannya.

Faktanya, tujuan utama pembangunan PLTA Kayan memang bukan untuk menyuplai energi ke desa-desa terpencil di pedalaman Kalimantan. Megaproyek ini akan dimanfaatkan untuk menyediakan setrum bagi kawasan industri. Salah satunya Kawasan Industri dan Pelabuhan Internasional (KIPI) Tanah Kuning Mangkupadi di Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara

Keberadaan KIPI dan PLTA Kayan seperti analogi telur dan ayam. Kawasan industri mustahil beroperasi tanpa pembangunan PLTA. Sementara tanpa KIPI, pasokan listrik dari PLTA akan sia-sia belaka karena kapasitasnya terlampau besar.

Belakangan, KIPI Tanah Kuning Mangkupadi dimasukkan dalam daftar Proyek Strategis Nasional melalui Peraturan Presiden No.109 tahun 2020. Meski sampai saat ini, belum ada ada kejelasan soal bagaimana dan kapan proyek ini akan mulai dibangun.


Potensi Dampak

Lingkungan

Wilayah DAS Sungai Kayan masuk dalam area Heart of Borneo (HoB), kawasan seluas 23 juta hektar yang diinisiasi oleh Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam untuk menjaga kelestarian hutan Kalimantan. HoB menyimpan keanekaragaman hayati yang tinggi, di mana 40%-50% jenis flora dan fauna di dunia ada di kawasan ini. Kendati demikian, laporan WWF menunjukkan sebanyak 8,6 juta hektar dari seluruh kawasan HoB dicerai berai oleh konsesi hutan, kelapa sawit dan pertambangan. Dengan sejarah panjang penggundulan hutan Indonesia yang mencapai 1,2 juta hektar per tahun dalam beberapa dekade terakhir, mempertahankan Hutan Kalimantan patut menjadi prioritas utama. Wilayah kerja PLTA Kayan yang akan berdiri di atas 45.000 hektar hutan lindung berpotensi menambah pelik persoalan deforestasi.

Menara Air

Heart of Borneo mendapatkan julukan ‘menara air’ bukan tanpa sebab. Setidaknya 14 dari 20 sungai utama Kalimantan berhulu di kawasan ini. Dari jantung hutan belantara Kalimantan, sungai-sungai besar mengalir ke berbagai penjuru, memberikan penghidupan bagi flora, fauna, dan manusia di sekitarnya.

Sampai saat ini belum ada proyek dengan skala sebesar PLTA Kayan di sungai-sungai Kalimantan. Keberadaan lima bendungan di Sungai Kayan mau tidak mau bakal mengubah ekosistem di sekitarnya, termasuk masyarakat adat yang menggantungkan hidup dari alam. “PLTA skala besar sudah banyak dikritisi bahkan ditinggalkan. Ini karena bendungan punya dampak besar terhadap biodiversitas dan ekosistem di sekitarnya,” ujar Chrisandini, Energy Project Leader WWF Indonesia.

Kendati demikian, ia tidak menampik PLTA masih jadi andalan sumber energi terbarukan di banyak negara, termasuk Indonesia. “Kami tidak dalam posisi menentang, tetapi pembangunan PLTA harus mempertimbangkan banyak faktor agar tidak merusak alam,” Chris menambahkan.

Kekhawatiran Chris bukan tanpa alasan. Sejumlah penelitian menunjukkan bendungan memiliki implikasi besar terhadap lingkungan dan sosial. Riset kolaborasi Christiane Zarfl, Pakar Lingkungan dari University of Tubingen di Jerman, misalnya mewanti-wanti dampak bendungan terhadap eksistensi megafauna air tawar. Keberadaan megafauna air tawar sangat penting sebab ia menggambarkan biodiversitas sungai secara keseluruhan.


As a nonprofit journalism organization, we depend on your support to fund reporting across the world’s tropical rainforests. Donate any amount today to become a Pulitzer Center Champion and receive exclusive benefits!


“Secara global, konstruksi bendungan PLTA akan meningkatkan ancaman terhadap megafauna air tawar, bahkan lebih tinggi dari yang kami perkirakan. Sebab analisis konservatif yang kami lakukan tidak memperhitungkan dampak dari perubahan debit air, sedimen, dan temperatur akibat pembangunan PLTA,” tulis para peneliti dalam riset tersebut.

Endro P. Wahono, peneliti sumber daya air dari Universitas Lampung, mengakui tidak mudah memprediksi bagaimana PLTA Kayan akan mempengaruhi alam sekitar. Endro kini berkolaborasi dengan para peneliti dari WWF dan Universitas Kalimantan Utara melakukan penelitian soal environmental flow untuk memotret bagaimana rona awal sungai sebelum proyek PLTA berjalan. Endro fokus pada aspek hidrologi sementara Abdul Jabar dari Universitas Kaltara melihat biodiversitas biota sungai.

Aspek hidrologi sungai sangat bergantung pada karakteristik debit air. Menurut Endro, setiap sungai memiliki siklus debit pasang surut periodik tergantung musim. Siklus alami ini penting dijaga kelestariannya karena sangat mempengaruhi ekosistem di sekitar. Pengukuran yang dilakukan Endro menunjukkan debit air Sungai Kayan mencapai puncaknya sekitar bulan April hingga meluap dan membanjiri wilayah tertentu. Debit berangsur menurun hingga mencapai titik terendah sekitar Agustus. “Asumsinya, kalau ada bendungan kan debit airnya diatur sehingga tidak alami lagi. Perubahan siklus debit periodik berpotensi mengganggu keanekaragaman hayati,” ujar Endro.

Mengantisipasi hal tersebut, PT Kayan Hydro Energi menegaskan sudah melakukan mitigasi risiko guna mengantisipasi risiko-risiko lingkungan. “Setelah banjir besar Tanjung Selor [tahun] 2015,kami melakukan antisipasi debit atau ketinggian banjir terbesar di Sungai Kayan. Desain itu pun sudah kita aplikasikan di dalam desain perubahan bendungan,” ujarnya.


Peneliti Universitas Lampung Endro P. Wahono menggunakan data curah hujan periode 2000-2004 untuk mengukur jumlah debit air Sungai Kayan. Data terbaru mungkin saja memberikan hasil yang berbeda.

Selain soal debit, sedimentasi sungai juga penting diperhatikan. Sedimen mengacu pada kumpulan material baik organik maupun anorganik yang dibawa oleh arus sungai. Material ini bisa berupa tanah, kerikil, lumpur, pasir, hingga algae dan biota yang membusuk.

Sedimen, baik yang mengendap di lantai sungai maupun yang terbawa arus memberikan banyak manfaat bagi ekosistem sungai. Sedimen mengandung nutrisi penting bagi biota sungai sekaligus menjadi penyokong ekosistem di muara dan pantai. Sejumlah penelitian terkini bahkan menunjukkan endapan sedimen sungai yang terbawa hingga ke hilir punya peran penting mencegah abrasi pantai dan menyuburkan ekosistem hutan bakau. Lima bendungan raksasa yang akan dibangun di Sungai Kayan berpotensi menghambat transportasi sedimen. “Soal sedimen ini perlu dikaji secara mendalam,” ujar Endro.

Dalam dokumen Analisis Dampak Lingkungan (Amdal) PLTA Kayan, potensi perubahan debit dan sedimentasi cukup besar. Proses pengisian bendungan Kayan I dengan tinggi 85 meter diperkirakan memakan waktu 293 hari. “Adanya genangan bendungan dengan kapasitas air sejumlah 3.0724 juta m3 maka kondisi hidrologi sungai akan berubah, aliran air sungai sementara berhenti mengalir di bendungan karena mengisi reservoar,” tulis peneliti dalam dokumen Amdal.

Proses ini menjadi salah satu yang krusial dalam pembangunan bendungan. Dampak paling kentara adalah penurunan debit sungai di bagian hilir. Dalam dokumen Amdal, aliran sungai bahkan diperkirakan bakal merosot sampai setengahnya selama pengisian bendungan berlangsung.

“Idealnya pengurangan ini sudah/tetap mengakomodasi service flow di hilir bendungan, misalnya untuk irigasi, air baku, navigasi kapal dan tentunya debit lingkungan untuk ekologi,” ujar Endro mewanti-wanti.

Operator PLTA biasanya melakukan penjadwalan yang cukup lama untuk menghindari bencana ekologi akibat anjloknya debit air di hilir. Sebab jika dilakukan dengan sembrono, proses pengisian bendungan akan mengancam pola hidup ekosistem di sekitar sungai. “Perubahan siklus debit mungkin ada pengurangan, tetapi tidak berdampak lebih. Jadi umum saja,” tegas Khaerony.

Lumbung Pangan Delta Kayan

Di Muara, aliran Sungai Kayan terpecah membentuk cabang-cabang tak teratur sampai ke Laut Sulawesi. Kawasan ini berdempetan dengan mulut Sungai Sembakung sehingga sering disebut dengan Delta Kayan-Sembakung. Estuari raksasa ini membentang ratusan ribu hektar, mulai dari Pulau Sebatik di Utara sampai perbatasan Kalimantan Timur di Selatan.

Delta Kayan-Sembakung menopang hajat hidup ratusan ribu orang melalui petak-petak sawah dan areal tambak. Lahannya subur sebab dipenuhi oleh jenis tanah aluvial dan mengikuti pola pasang surut sungai. Sejak 2011, Pemerintah Kabupaten Bulungan pun mencanangkan program Food Estate di Delta Kayan, dengan ambisi membangun lumbung skala besar di kawasan ini.

Kendati demikian, pengembangan lumbung pangan di Delta Kayan menghadapi sejumlah persoalan. Penelitian yang dilakukan oleh Setyo Pertiwi, Dosen Teknologi Pertanian Institut Pertanian Bogor, pada 2018 memaparkan beberapa hambatan mengapa tingkat produksi beras di Delta Kayan cenderung kurang berkembang.

Selain soal infrastruktur dan sumber daya manusia, ada faktor agroekologi yang turut berpengaruh. Salah satunya adalah intrusi air laut, kondisi ketika air asin merembes ke akuifer air tawar sehingga dapat mengkontaminasi sumber air konsumsi. Air asin juga membuat tanaman padi dan palawija tidak tumbuh maksimal.

Menurut Rektor Universitas Kaltara Abdul Jabar, proyek PLTA bisa saja memperburuk intrusi air laut di delta Kayan. “Kalau setelah ada bendungan air sungai di hilir semakin surut maka potensi intrusi bisa saja terjadi,” ujarnya.


Delta Daerah Aliran Sungai (DAS) Kayan diproyeksikan menjadi lumbung pangan nasional. Keberadaan PLTA berpotensi menambah tantangan pengelolaan delta secara berkelanjutan. Sumber foto: Google Maps.

Pola Migrasi Ikan

Ikan sidat mungkin kurang tenar di kalangan masyarakat meski fauna air tawar yang mirip belut ini sejatinya bernilai ekonomis tinggi. Orang-orang Jepang menyebutnya unagi (Anguilla japonica) yang menjadi bahan utama hidangan kabayaki. Ikan sidat punya siklus hidup yang unik. Mereka ikan katadromus, artinya ikan sidat tumbuh dewasa di air tawar lantas melakukan pemijahan di laut dalam. Perilaku sidat berbanding terbalik dengan ikan salmon yang melakukan perjalanan ke dari samudera ke sungai tempat mereka dilahirkan.

Ikan sidat yang hidup di Sungai Kayan merupakan spesies berbeda dengan sidat jepang atau sidat eropa (Anguilla anguilla). Sidat Kalimantan (Anguilla borneensis) kini masuk dalam kategori merah dalam daftar International Union for Conservation of Nature (IUCN) akibat perburuan besar-besaran dan ekosistem yang terancam. Abdul Jabar mengkhawatirkan proyek PLTA Kayan akan mengganggu pola migrasi ikan, terutama jenis sidat borneo yang sudah diambang kepunahan.

“Ancaman terhadap pola migrasi ikan berpotensi mengganggu ekosistem sungai secara keseluruhan,” ujarnya.

Penelitian Thomas Trancart dari Dinard Marine Biology Station, Perancis terhadap sidat eropa (Anguilla anguilla) memberikan gambaran bagaimana bendungan mengganggu pola hidup ikan. Bendungan mempengaruhi migrasi ikan baik secara langsung maupun tidak langsung. Mulai dari menyebabkan ikan terluka bahkan mati, menghambat waktu migrasi, atau bahkan membuat ikan sama sekali tidak bisa bermigrasi. Selain penangkapan secara berlebihan, bendungan dan pembangkit listrik juga diketahui secara luas sebagai salah satu penyebab populasi sidat eropa merosot.

Laporan Food Agriculture Organization (FAO) juga kian menegaskan dampak bendungan terhadap migrasi ikan. Bendungan PLTA setinggi 44 meter di Sungai Kali Gandhaki Nepal, diketahui telah membuat populasi ikan mahseer (Tor sp) dan bagarius merosot drastis. Hal serupa juga terjadi di banyak bendungan lainnya di berbagai belahan dunia.


Sosial Ekonomi

Ratusan warga Dayak di Desa Long Peleban dan Long Lejuh akan merasakan dampak langsung pembangunan PLTA. Kedua desa itu akan ditenggelamkan sehingga mereka harus mencari tempat tinggal baru. "Saat ini kami tidak punya pilihan lain," kata Markus, salah seorang warga Long Peleban.

Bukan keputusan mudah untuk meninggalkan desa yang sudah dihuni lebih dari satu abad. Yosep Angit menceritakan ketika kabar soal rencana pembangunan PLTA Kayan bergulir, warga resah dan menolak pindah. Mereka khawatir akan kehilangan kebun dan hutan yang selama ini jadi tumpuan hidup. Belum lagi nilai historis dan dan budaya yang juga akan tenggelam bersama bendungan. “Di atas desa kami ini ada situs keramat peninggalan nenek moyang yang tidak ternilai harganya,” kisah Yosep.

Lambat laun, warga merasa tak punya pilihan. PT Kayan Hydro Energi kian agresif membujuk warga. Beberapa orang perwakilan warga pun sudah dua kali diboyong ke China untuk melihat langsung bendungan terbesar di dunia Three Gorges beroperasi.

Warga Long Peleban dan Long Lejuh kini cuma bisa pasrah menanti relokasi. Mereka cuma berharap proses ganti rugi bisa berjalan adil dan berpihak kepada warga. Sebab meskipun desa ini terpencil, warga kedua desa ini sudah bisa hidup mapan berkat kebun dan hutan.

Proses relokasi dan ganti rugi bisa jadi hal yang luar biasa rumit. Yosep menuturkan sampai saat ini belum pernah ada kesepakatan apapun antara warga dengan pihak perusahaan terkait proses ini. Yosep juga menceritakan dalam pertemuan terakhir dengan pihak KHE, warga Long Peleban memprotes soal narasi yang dituliskan di notulensi Berita Acara yang menyebut warga yang minta direlokasi ke tempat.

“Istilah kasarnya kami ini kan korban. Kenapa dibuat seolah-olah kami yang meminta pindah,” kisah Yosep.

Yohanes, mantan ketua adat Long Peleban yang pernah ikut diboyong ke China, berharap perusahaan bisa memberikan solusi yang adil bagi semua pihak. Menurutnya, warga pada dasarnya tidak keberatan untuk pindah ke lokasi baru. “Kalau bisa lokasi baru ini menyediakan akses yang lebih mudah untuk bepergian,” ujarnya

Hitung-hitungan ganti rugi lahan kebun juga belum jelas mekanismenya. Jika mengacu pada harga rata-rata, harga jual tanah bisa mencapai Rp25 juta per hektar. Ini belum menghitung tanam tumbuh yang ada di atas lahan tersebut. Pepohonan buah macam duku atau durian biasanya dihargai Rp5 juta per pohon. Dalam satu hektar lahan biasanya ada sekitar 200-300 pohon. Dengan hitungan kasar semacam ini, pihak perusahaan harus membayar sekitar Rp1 miliar hingga Rp1,5 miliar per hektar. Padahal, satu kepala keluarga saja bisa mengklaim belasan hingga puluhan hektar.

“Perusahaan dan warga perlu duduk bersama untuk membicarakan mekanisme ganti rugi ini,” kata almarhum Sudjati, Bupati Bulungan kala itu.

Proses ganti rugi bisa jadi kian rumit sebab kepemilikan lahan di kedua desa ini diatur oleh hukum adat. Ketentuan ulayat mengatur seberapa luas lahan milik seseorang beserta batas-batasnya. Sebagian besar lahan tidak dilengkapi dengan surat kepemilikan resmi dari negara. Menurut Sudjati, ini bisa menjadi persoalan pelik di kemudian hari.

“Belajar dari banyak kasus lain, perusahaan biasanya hanya mau membayar lahan yang ada surat resminya. Kondisi semacam ini sudah jadi banyak penyebab konflik agraria di Indonesia,” tegas Wahyu dari Walhi.

Terkait dengan mekanisme ganti rugi, Perusahaan menegaskan sudah mencapai kata sepakat soal relokasi dua desa yang akan ditenggelamkan. Warga desa tersebut juga sudah menunjuk dan menyarankan lokasi relokasi tersebut. Saat ini proses negosiasi kesepakatan harga masih berlangsung. “Untuk tempat relokasi juga kita melakukan pendekatan karena di tempat tersebut masuk di dalam kawasan hutan jadi dalam proses alih fungsi di KLHK,” ujar Khaerony, Direktur PT Kayan Hydro Energi.

Di luar mekanisme ganti rugi yang rumit, pembangunan PLTA kayan juga memberikan dampak terhadap ribuan orang di desa-desa lain. Setidaknya ada empat desa yang berdekatan dengan lokasi proyek; Long Bia, Long Peso, Long Lian, dan Muara Pangean dengan total populasi sekitar 3.000 orang.

“Supir speed boat seperti kami ini sudah pasti akan merasakan dampaknya,” keluh Udin, kapten kapal yang membawa kami menyusuri Sungai Kayan.


Penulis: Rezza Aji Pratama

Penata Grafis: Louis Lugas W.

Sumber: Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), Dokumentasi Pribadi, Dokumen Analisis Dampak Lingkungan