TEMPAT KAMI MELAPORKAN


Artikel Publication logo Oktober 12, 2022

Supaya Anak Muda Peduli

Negara:

Penulis:
boats on a river
bahasa Indonesia

Keberadaan hutan hujan tropis di Pulau Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah, Indonesia begitu penting...

SECTIONS

NUSAKAMBANGAN: Warga menyusuri hutan di Pulau Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah, pekan lalu. Pulau Nusakambangan merupakan rumah keanekaragaman hayati bagi satwa langka dan flora endemik yang harus dilestarikaN. Foto oleh Lilik Darmawan/Media Indonesia. Indonesia, 2022.

Kampanye pelestarian hutan Nusakambangan dilakukan juga lewat media sosial. Sasarannya pelajar dan mahasiswa agar kepedulian terus berlanjut.


MESKI dikenal sebagai pulau penjara, sesungguhnya Pulau Nusakambangan merupakan rumah keanekaragaman hayati. Salah satu pulau terluar di Indonesia itu masih menjadi rumah bagi satwa langka dan dilindungi. Juga sebagai rumah bagi flora endemik yang tidak ditemukan di tempat lain.

Peneliti Eming Sudiana dan Imam Widhiono MZ dari Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Jawa Tengah, dalam studinya tentang ekosistem hutan hujan tropis dataran rendah Nusakambangan menyebutkan bahwa hutan Nusakambangan masuk NKT 5. Artinya sebuah ekosistem yang memiliki nilai konservasi tinggi dan masyarakat setempat menggantungkan hidup pada ekosistem hutan.

Bahkan, mereka menyatakan bahwa jasa ekosistem kawasan hutan Nusakambangan sangat dibutuhkan oleh masyarakat Kecamatan Kampung Laut dan tidak dapat digantikan oleh ekosistem lain. Jasa ekosistem itu antara lain banyaknya mata air.

Karena itu, bagi masyarakat Kampung Laut, melestarikan hutan Pulau Nusakambangan menjadi bagian sangat penting, meski masih ada sejumlah ancaman yang muncul di antaranya pembalakan dan perburuan liar ataupun pendatang ilegal.

Pelaksana Tugas (Plt) Ketua Yayasan Nusa Segara Indonesia Mukhamad Nur Zaman mengatakan kondisi hutan Pulau Nusakambangan relatif terjaga. Penilaian itu bukan tanpa dasar. Lembaganya ikut aktif dalam kegiatan pemantauan di hutan Pulau Nusakambangan bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Tengah, Resort Konservasi Wilayah (RKW) Cilacap.

Ada dua faktor hutan Nusakambangan lebih terjaga. Salah satunya ialah kawasan Nusakambangan merupakan high security dan menjadi kewenangan Kementerian Hukum dan HAM. Pasalnya, di pulau itu berdiri tujuh lembaga pemasyarakatan (LP).

“Sebagai tempat penahanan para pelaku kejahatan, Nusakambangan merupakan daerah high security. Tidak semua orang bisa masuk secara sembarangan,” katanya.

Selain itu, ada pula kawasan cagar alam. Mereka yang ingin masuk ke sana harus memenuhi sejumlah syarat, di antaranya surat izin masuk kawasan konservasi (Simaksi).

“Dengan kedua faktor inilah, hutan Nusakambangan relatif terjaga. Meski ada satwa liar dan kerap terlihat melalui kamera trap seperti macan tutul, sementara ini masih dalam habitatnya. Tidak ada konflik yang muncul antara manusia dan masyarakat. Padahal, wilayah Nusakambangan tidak terlalu luas, hanya 210 kilometer persegi,”
tambah pria yang akrab disapa Azam itu.

Media sosial

Untuk terus melakukan upaya pelestarian dan rasa memiliki perlu ada edukasi dan sosialisasi secara terus-menerus. Pelestarian hutan Nusakambangan tidak semata-mata dilaksanakan oleh instansi berwenang, tetapi juga oleh masyarakat luas.

“Menurut saya, tidak hanya warga di sekitar Nusakambangan, melainkan semuanya,” paparnya.

Karena itulah, Azam yang ikut di sejumlah grup peduli lingkungan memberikan informasi dan kampanye berupa infografis mengenai keberadaan Nusakambangan.

“Kami menyasar anakanak muda supaya mereka juga mengetahui Pulau Nusakambangan. Jangan sampai mereka hanya tahu kalau itu pulau penjara, karena di Nusakambangan ada hutan hujan tropis daratan rendah yang tersisa di Pulau Jawa,” jelasnya.

Kampanye dilakukan dengan menampilkan infografis di media sosial Instagram (IG). Misalnya infografis mengenai kondisi tanaman endemik Nusakambangan pelahlar.

Info tak kalah penting ialah ditemukannya lagi capung yang sejak 1959 sudah menghilang. Pada 2017 lalu, pihaknya menemukannya di Nusakambangan.

“Ini menunjukkan bahwa Nusakambangan merupakan rumah bagi keanekaragaman hayati yang sebagian tidak ditemukan di lokasi lain,” lanjutnya.

Azam mengaku membagikan keanekaragaman hayati yang khas di Nusakambangan itu melalui media sosial. Ia sengaja menyasar anak-anak muda. Selain di Cilacap, Azam berusaha menyebarkannya di kampus-kampus di Purwokerto.

“Jadi, sebetulnya kegiatan kami bersama komunitas peduli lingkungan cukup beragam. Tetapi pada intinya ialah kampanye dan sosialisasi Kepedulian terhadap ingkungan, khususnya wilayah Nusakambangan. Oleh karena itu, kami mengajak para siswa pencinta alam (sispala) di Cilacap,” paparnya.

Kebaruan data

Untuk kegiatan secara langsungnya ialah tanam pohon. Biasanya, di dalamnya ada edukasi mengenai keanekaragaman hayati dan pentingnya upaya pelestarian.

Menurut Azam, kegiatan bersama anak-anak muda lebih luwes dan tidak formal. Berbeda dengan masyarakat yang biasanya formal, maka pihaknya melakukannya secara santai. Bahkan, kadang sambil nongkrong atau kegiatan bersama di alam.

“Selain sispala, kami juga mengajak mahasiswa pencinta alam (mapala). Dari kampus di Cilacap hingga Purwokerto. Bahkan, kami juga mengajak anak-anak kampus di Yogyakarta,” ungkapnya.

Dijelaskan oleh Azam, konten kampanye di media sosial dengan visual disertai bahasa yang sederhana. “Informasinya ringan-ringan saja.

Misalnya, ada foto, dilengkapi dengan caption ringan. Contohnya ketika membuat infografis soal pelahlar, kami memberikan keterangan bahwa pohon ini hanya ada di Nusakambangan.”

Pun ketika ada ekspedisi, Azam dan teman- teman membagikan pengalaman. Kampanye untuk anak muda tentang kepedulian ling- kungan memang harus sesuai dengan zaman dan usianya.

Mengapa Nusakambangan menjadi perhatian? Pulau Nusakambangan itu kecil sehingga kalau habitatnya rusak, selesai sudah.

Kegiatan lain yang dilakukan ialah Asian Birds Water Census, yakni melakukan pendataan terhadap burung-burung yang unik dan khas. “Pendataan ini mendapat animo cukup besar dari kalangan anak muda, terutama para mahasiswa pencinta alam,” tambahnya.


Kini, upaya pelestarian selalu disertai dengan kebaruan data. Data-data baru inilah yang menjadi konten dan bahan kampanye di media sosial. “Sasaran kami anak-anak muda supaya ada keberlanjutan kepedulian.”


BANYAK SATWA LIAR: Seekor monyet berada di kawasan Cagar Alam Nusakambangan Timur di Cilacap, Jawa Tengah, pekan lalu. Di kawasan tersebut masih banyak satwa liar yang bisa ditemukan. Foto oleh Lilik Darmawan/Media Indonesia. Indonesia, 2022.

Para Relawan Penjaga Nusakambangan

SUATU ketika, Mukhamad Nur Zaman bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) melakukan patroli. Mereka menemukan bekas pembakaran.

“Bahkan, ada sisa tulang dan daging kancil. Ini jelas menunjukkan adanya aktivitas perambah kayu atau pemburu satwa,” ujar pegiat lingkungan dari Cilacap, Jawa Tengah, itu.

Dari temuan tersebut, operasi dan razia rutin terus digelar di sekitar hutan Pulau Nusakambangan. Tidak hanya BKSDA, sejumlah instansi lain juga mengirimkan anggotanya. Masyarakat sipil yang diwakili komunitas peduli lingkungan juga tidak mau diam.

Tokoh masyarakat Kampung Laut, Thomas Heri Wahyono, mengaku juga kerap ikut patroli yang dilaksanakan oleh BKSDA. “Beberapa kali saya ikut.

Biasanya ke wilayah Karangjati atau Cagar Alam Nusakambangan Barat yang rawan penjarahan dan perburuan burung. Lokasi itu menjadi pintu masuk dari arah Jawa Barat.”

Menurut Wahyono, pelibatan masyarakat dalam menjaga cagar alam atau hutan di Nusakambangan sangat penting. Tak hanya untuk menggugah kesadaran warga, tapi juga sebagai sarana edukasi.
“Kalau warga ikut serta dalam razia maka mereka juga akan menyadari dan merasa memiliki. Mereka dapat menjadi relawan yang turut menjaga keberadaan hutan,” ujarnya.

Nelayan terlibat

Para nelayan di Cilacap juga mem- bentuk masyarakat mitra polisi hutan (MMP) yang dinamakan Pandu Nusa Buana. Para relawan dan nelayan itu membantu BKSDA dalam patroli dan menjaga hutan Pulau Nusakambangan.

Koordinator MMP Pandu Nusa Buana, Tarmuji, mengatakan komunitas tersebut mulai terbentuk sejak 2015.

“Kegiatan MMP bersifat sukarela. Jangan pernah mengharapkan uang di sini. Saya terpanggil ikut serta dalam MPP karena ingin ikut serta melindungi ekosistem di hutan Nusakambangan beserta satwa liarnya,” kata Tarmuji kepada Media Indonesia.

Ia sadar untuk menjaga Nusakambangan tidak mungkin hanya dilaksanakan oleh BKSDA. Uluran tangan dari seluruh pemangku kepentingan, salah satunya elemen masyarakat, sangat dibutuhkan.

Di Cilacap itu ada tiga daerah cagar alam. Ada Nusakambangan bagian barat dan timur, serta Gunung Selok. MMP di Cilacap juga membagi tiga kelompok, dengan satu kelompok terdiri atas 10 relawan.

Tarmuji mengatakan keberadaan Nusakambangan telah terbukti menjadi bagian penting bagi masyarakat Cilacap. Misalnya saja, bagi warga Kampung Laut menjadi sumber air bersih.

Kemudian di Nusakambangan Timur yang berbatasan dengan cagar alam, ada objek wisata. “Kami bersama relawan lainnya ikut memantau dan menjaga para pengunjung yang menyeberang ke Nusakambangan Timur. Jangan sampai ada yang melakukan perusakan alam,” jelas dia.

Bagi masyarakat nelayan di sekitar Teluk Penyu, keberadaan Cagar Alam Nusakambangan Timur mempunyai arti penting. Mereka kerap mengantarkan pengunjung masuk ke Nusakambangan Timur untuk berwisata.

Adapun bagi para relawan, pelestarian hutan Nusakambangan menjadi hal utama.

Mereka tidak rela jika terjadi kerusakan di hutan Nusakambangan. Pulau tersebut juga telah menjadi bukti kuat sebagai benteng dari amukan tsunami.

Salah satunya yang terjadi saat gempa dan tsunami Pangandaran pada 2006 silam. Nusakambangan mampu menjadi benteng bagi warga Cilacap.

RELATED CONTENT