TEMPAT KAMI MELAPORKAN


Terjemahkan halaman dengan Google

Artikel Publication logo May 8, 2021

Penambang Rakyat Nikmati Hijaunya Kebun Raya Megawati Soekarnoputri

Negara:

Penulis:
man riding a bike on a dirt road through the forest
Inggris

Reclaiming the former PT Newmont Minahasa Raya (NMR) gold mining area in Southeast Minahasa, North...

SECTIONS
Penambang Rakyat Nikmati Hijaunya Kebun Raya Megawati Soekarnoputri
Penambang rakyat di Ratatotok dalam perjalanan pulang dari lokasi tambang. Foto diambil Maret 2021. Tribun Manado/Finneke Wolajan

TRIBUNMANADO.CO.ID - Bukit Mesel Ratatotok telah berubah wajah setelah dilakukan reklamasi lahan bekas tambang PT Newmont Minahasa Raya (PT NMR).

Kawasan seluas 221 hektar yang dulunya gundul dan gersang, kini telah hijau dengan pepohonan. Namun rupanya masyarakat belum merasakan manfaat reklamasi tersebut.

Kebun Raya Megawati Soekarnoputri sesuai dengan perencanaannya memberi manfaat di antaranya konservasi tumbuhan, penelitian, pendidikan, wisata dan jasa lingkungan.

Namun rupanya, masyarakat sekitar kebun raya belum merasakan manfaatnya.

Fakta lain terungkap, setelah PT NMR angkat kaki dari Ratatotok, makin banyak masyarakat yang jadi penambang tradisional tak berizin di lokasi tersebut.


Lokasi penambang rakyat di dalam Kebun Raya Megawati Soekarnoputri. Foto diambil Maret 2021 (Tribun Manado/Finneke Wolajan)

Franky Lendo, warga Ratatotok mengakui setelah reklamasi dan jadi Kebun Raya Megawati, kondisinya sudah jauh berbeda. “Sangat terasa terasa sekali kesejukkan di area reklamasi” ujarnya, saat berbincang Maret 2021.

Saat PT NMR masih beroperasi, Franky Lendo adalah salah seorang karyawan di perusahaan tambang emas ini. Franky bekerja di PT NMR sejak awal perusahaan dibuka hingga penutupan, sehingga ia mengaku tahu betul kondisi lokasi saat penambangan dan setelah reklamasi.

Franky mengakui, upaya reklamasi hutan ini sangat baik. “Bayangkan dulunya gersang sekali, sekarang sudah hijau,” katanya.

Fakta menarik lainnya setelah reklamasi lahan bekas tambang tambang adalah munculnya para penambang rakyat di dalam kawasan Kebun Raya Megawati dan sekitarnya.

Setelah PT NMR hengkang dari Minahasa Tenggara, rupanya peluang rakyat untuk menambang terbuka.

Karena sebelumnya, masyarakat tentu saja tak bisa menambang di area tersebut karena penjagaan ketat oleh perusahaan. Meski sudah sejak zaman Belanda, ada lokasi yang memang sudah lama menjadi lokasi tambang rakyat.

Kandungan emas yang tersisa di area reklamasi dan sekitarnya bak magnet yang menarik penambang rakyat. Akhir 2020 lalu, sejumlah titik di dalam Kawasan Kebun Raya Megawati dan sekitarnya ramai diserbu warga.


Penambang rakyat di Bukit Messel Ratatotok tepatnya di Lubang Nibong. Penambang mengklaim kawasan ini berada di luar Kebun Raya Megawati Soekarnoputri. Foto diambil Maret 2021 (Tribun Manado/Finneke Wolajan)

“Bayangkan waktu itu orang-orang (penambang rakyat) sudah tak tahu dari mana, banyak sekali yang datang. Tapi memang terasa asri saat menambang, ujar Franky yang juga menjadi penambang rakyat ini.

Warga lainnya, Valdy Suak, memberi pengakuan yang sama. Reklamasi hutan di Bukit Mesel Ratatotok ini belum terasa bagi warga sekitar.

Meski ia benar mengakui, kawasan yang dulunya gersang dan gundul, kini telah hijau dengan pepohonan. Keuntungan bagi masyarakat karena reklamasi, adalah karena masyarakat bisa menambang di area yang kandungan emasnya banyak.

“Kebun raya ini proyek besar, tapi manfaatnya belum dirasakan masyarakat. Kecuali hasil dari tambang rakyat, itu baru jadi sumber ekonomi warga sekitar tambang, maupun warga yang datang dari daerah lainnya,” katanya.


Lokasi penambang rakyat di dalam Kebun Raya Megawati Soekarnoputri. Foto diambil Maret 2021 (Tribun Manado/Finneke Wolajan)

Senada dikatakan warga lainnya Frisa, juga mengakui hal yang sama. Ia sendiri belum merasakan dampak reklamasi hutan, dari segi lingkungan.

Frisa lebih menyorot bagaimana roda perekonomian berputar di Ratatotok karena hasil tambang rakyat.

“Kerasa sekali perekonomian di sini hidup. Saya jualan online, itu cepat laku. Karena banyak masyarakat dapat hasil dari tambang,” kata Frisa yang juga punya usaha jasa foto dan video.

“Usaha jasa foto dan video saya saja laris manis. Warga yang punya penghasilan di tambang, kalau memakai jasa saya, mereka tak lagi menawar. Bahkan meski saya terapkan harga tinggi, mereka langsung ambil,” katanya.


Laporan ini diproduksi atas dukungan dari Dana Jurnalisme Hutan Hujan (Rainforest Journalism Fund) yang bekerja sama dengan Pulitzer Center.