TEMPAT KAMI MELAPORKAN


Terjemahkan halaman dengan Google

Artikel Publication logo May 8, 2021

Keanekaragaman Hayati di Hutan Reklamasi Lahan Eks Tambang PT Newmont Minahasa Raya

Negara:

Penulis:
man riding a bike on a dirt road through the forest
bahasa Indonesia

Kawasan eks tambang emas PT Newmont Minahasa Raya (NMR) di Minahasa Tenggara, Sulawesi Utara telah...

SECTIONS

view of the forest in Indonesia
Tribun Manado/Finneke WolajanLahan Eks Tambang PT Newmont Minahasa Raya kini telah direklamasi dan telah dijadikan Kebun Raya Megawati Soekarnoputri. Foto diambil Maret 2021.

TRIBUNMANADO.CO.ID - Reklamasi lahan bekas tambang PT Newmont Minahasa Raya (PT NMR) yang kini menjadi kebun raya memberikan dampak yang besar untuk keanekaragaman hayati di lahan seluas 221 hektar yang berlokasi di Bukit Mesel, RatatotokMinahasa TenggaraSulawesi Utara.

Keanekaragaman hayati di hutan reklamasi ini tergolong tinggi dengan 83 jenis tumbuhan bawah, 53 jenis tumbuhan tingkat tiang, dan 55 jenis tumbuhan tingkat pohon.

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyebut ada 66 jenis tumbuhan hasil revegetasi di Kebun Megawati Soekarnoputri.

Jenis-jenis tumbuhan utama yang menutupi lahan-lahan yang telah direklamasi adalah jati (Tectona grandis L.f.), nantu (Palaquium obtusifolium Burck), kayu manis (Cinnamomum burmanni (Nees & T.Nees) Blume), sengon (Paraserianthes falcataria (L.) I.C.Nielsen), mahoni (Swietenia macrophylla King), jabon merah (Neolamarckia macrophylla (Roxb.) Bosser), linggua (Pterocarpus indicus Willd.), ketapang air (Terminalia catappa L.), serta berbagai jenis tumbuhan perdu dan rerumputan.

aerial view of a lake surrounded by forest and rock
Lahan Eks Tambang PT Newmont Minahasa Raya kini telah direklamasi dan telah dijadikan Kebun Raya Megawati Soekarnoputri. Foto diambil Maret 2021 (Tribun Manado/Finneke Wolajan)

Berdasarkan hasil survei lapangan, selain jenis-jenis pohon reklamasi seperti yang disebutkan di atas, ditemukan juga jenis-jenis pohon yang merupakan tumbuhan asli di kawasan KR Megawati Soekarnoputri, seperti kenanga (Cananga odorata (Lam.) Hook.f. & Thomson), kenari (Canarium asperum Benth. dan C. hirsutum Willd.), rao (Dracontomelon dao (Blanco) Merr. & Rolfe), kayu hitam (Diospyros korthalsiana Hiern), dan kayu telor (Alstonia scholaris (L.) R. Br.). Kegiatan reklamasi yang dilakukan sejak tahun 1996 telah berjalan sangat baik, terlihat dari tegakan-tegakan pohon yang sudah mulai membentuk kawasan hutan kembali.

Selain tumbuhan, di kebun raya ini juga memiliki 74 jenis burung yang menetap dan mengunjungi kawasan tersebut, seperti burung kacamata dahi hitam, kutilang, uncal ambon, cerek, kepondang kuduk hitam, cabai panggul hitam, kadalan Sulawesi, tiong lampu, dan srigunting jambul rambut.

Sejumlah satwa penting berstatus terancam kepunahan bisa juga ditemukan di kawasan kebun raya ini.

Sebut saja tarsius dan kera hitam. Beberapa jenis serangga pun ada di kebun raya ini.

LIPI menyebut sebagian besar kawasan Kebun Raya Megawati Soekarnoputri merupakan hasil reklamasi, namun demikian ada beberapa kawasan yang termasuk hutan sekunder.

view of the forest from the ground looking up to the boughs of the trees and the sky
Lahan Eks Tambang PT Newmont Minahasa Raya kini telah direklamasi dan telah dijadikan Kebun Raya Megawati Soekarnoputri. Foto diambil Maret 2021 (Tribun Manado/Finneke Wolajan)

Jenis-jenis tumbuhan asli dan tumbuhan introduksi yang telah beradaptasi dengan baik pada beberapa spot hutan sekunder diberi label dan ditetapkan menjadi koleksi spontan.

Tumbuhan yang ditetapkan sebagai koleksi spontan berjumlah 130 nomor yang termasuk dalam 32 suku, 60 marga, dan 89 jenis.

Beberapa contoh koleksi spontan di Kebun Raya Megawati Soekarnoputri adalah Dracontomelon dao (Blanco) Merr. & Rolfe (Anacardiaceae), Alstonia spectabilis R.Br. (Apocynaceae), Trema orientale (L.) Blume (Cannabaceae), Garuga floribunda Decne., Canarium hirsutum Willd. (Burseraceae), Peltophorum pterocarpum (DC.) Backer ex K.Heyne, Intsia bijuga (Colebr.) Kuntze (Fabaceae), Ficus celebensis Corner, Ficus sp. (Moraceae), Gynochthodes jackiana (Korth.) Razafim. & B.Bremer, Uncaria sinensis (Oliv.) LIPI menyebut pemberian label koleksi spontan dilakukan bersamaan dengan survei lapangan dalam penyusunan masterplan.

Pengembangan koleksi dilakukan melalui kegiatan eksplorasi tumbuhan di dalam maupun di sekitar kawasan Kebun Raya Megawati  Soekarnoputri yang memiliki karakteristik habitat yang sama.

carvings on a tree trunk
Lahan Eks Tambang PT Newmont Minahasa Raya kini telah direklamasi dan telah dijadikan Kebun Raya Megawati Soekarnoputri. Foto diambil Maret 2021 (Tribun Manado/Finneke Wolajan)

Hingga kini, eksplorasi telah dilakukan sebanyak dua kali pada tahun 2017.

Koleksi tumbuhan hasil eksplorasi tersebut masih dipelihara di pembibitan sementara yang berlokasi di kompleks perkantoran Kecamatan  Ratatotok.

Koleksi tersebut akan segera dipindahkan ke lokasi pembibitan setelah fasilitas pembibitan yang dibangun oleh Kementerian PUPR dapat difungsikan secara optimal dan memiliki SDM pengelola yang memadai.

Sulawesi merupakan kawasan Wallacea yang memiliki jenis-jenis tumbuhan dan satwa yang sangat berbeda dengan daerah lainnya.

Sebagai contoh hutan pamah yang dominan di Sulawesi hanya memiliki enam jenis pohon dari suku Dipterocarpaceae, sangat berbeda jika dibandingkan dengan Sumatra yang berjumlah 267 jenis dan Kalimantan 106 jenis.

picture of the forest
Lahan Eks Tambang PT Newmont Minahasa Raya kini telah direklamasi dan telah dijadikan Kebun Raya Megawati Soekarnoputri. Foto diambil Maret 2021 (Tribun Manado/Finneke Wolajan)

Jenis endemik Sulawesi dari suku Dipterocarpaceae adalah Hopea celebica Burck dan Vatica flavovirens Slooten. Jenis pohon yang terkenal dan melimpah di Sulawesi adalah Diospyros spp.

Sementara itu, keragaman satwa terutama hewan menyusui di Sulawesi juga tercatat paling khas di Indonesia (Whitten et al., 1987).

Sebanyak 127 hewan menyusui yang ada di Sulawesi, 67 persen di antaranya adalah jenis endemik. Prosentase keragaman jenis burung Sulawesi (31 persen) hanya kalah dari Papua (52 persen) dan Maluku (33 persen) dari total jenis yang ada di seluruh Indonesia.


Laporan ini diproduksi atas dukungan dari Dana Jurnalisme Hutan Hujan (Rainforest Journalism Fund) yang bekerja sama dengan Pulitzer Center.