TEMPAT KAMI MELAPORKAN


Terjemahkan halaman dengan Google

Artikel Publication logo Oktober 12, 2022

Pendatang Merusak Kami yang Menanami Lagi

Negara:

Penulis:
boats on a river
bahasa Indonesia

Keberadaan hutan hujan tropis di Pulau Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah, Indonesia begitu penting...

SECTIONS

Hutan Nusakambangan pernah dibabat pendatang sehingga merusak mata air. Warga dusun bersama-sama menghijaukannya kembali.


KISAH pilu itu terjadi pada 32 tahun lalu atau pada 1990. “Ra- tusan warga mengalami krisis air bersih,” cerita Thomas Heri Wahyono, Kepala Dusun (Kadus) Lempong Pucung, Desa Ujung Alang, Kampung Laut, Cilacap, Jawa Tengah.

Krisis terjadi gara-gara sumber mata air berubah warna menjadi keruh, bahkan kecokelatan akibat bercampur lumpur.

Air berasal dari salah satu mata air yang berada di Pulau Nusakambangan bernama Jambe Sewu. Sebelumnya, sumber itu mengalirkan air jernih bagi warga.

Perubahan terjadi setelah sejumlah pendatang masuk ke Nusakambangan. “Saat itu ada perusahaan besar di Jakarta yang membudidayakan pisang cavendis. Mereka membuka lahan dan mendatangkan ratusan pekerja,” kenang Wahyono.

Kala itu, warga Ujung Alang hanya sebagai penonton. Bahkan, mereka tidak tahu apa yang terjadi. “Kami hanya sebagai penonton karena Nusakambangan bukan milik kami,” ungkapnya kepada Media Indonesia.

Namun, beberapa waktu kemudian, perusahaan dilanda masalah. Para pekerja kecewa. Mereka pun melakukan kegiatan lain, di antaranya membabat hutan menjadi areal perkebunan dan pertanian. Mereka juga mengajak pendatang baru sehingga jumlah mereka mencapai 900-an kepala keluarga.

“Puncaknya terjadi pada 1992-1993. Adanya pembukaan lahan dengan membabat hutan, membuat sisa tanah masuk ke saluran sumber mata air. Warga Lempong Pucung yang kena dampaknya. Air yang diambil dari Pulau Nusakambangan tidak lagi bersih,” paparnya

Warga Lempong Pucung pun bersikap. Wahyono yang ketika itu menjadi ketua RT mengumpulkan masyarakat. “Kami sepakat, apa pun alasannya, warga yang mulai membuka lahan di Nusakambangan harus turun. Terutama mereka yang berada di jalur aliran air bersih.”

Alhasil, satu per satu pendatang yang tinggal di Nusakambangan mau untuk turun. Sebagian pulang ke daerah asalnya, beberapa di antaranya menjadi warga di Ujung Alang.

Manfaat ekonomi

“Kehadiran mereka membuat kehidupan kami terusik. Hutan yang dibuka membawa dampak buruk pada pasokan air bersih untuk penduduk Lempong Pucung. Karena itu, kami menyatu dan bersikap untuk meminta mereka pergi. Nusakambangan harus bersih dari pendatang,” tegas Wahyono.

Namun, hutan yang rimbun sudah jadi gundul. Sumber mata air tetap dalam ancaman.

“Meski hanya sebagai ketua RT, saya memberanikan diri untuk mengajak warga menghijaukan lahan terbuka di Nusakambangan meski itu bukan tanah kami. Yang kami khawatirkan ialah kelangsungan air bersih,” cerita Wahyono.

Rehabilitasi pun dilakukan mulai 1994. Wahyono bersama warga lainnya memulai merehabilitasi lahan. Jenis pohon yang ditanam beragam, tetapi umumnya ialah pohon keras.


HUTAN NUSAKAMBANGAN: Wahyono, Kepala Dusun Lempong Pucung, Desa Ujung Alang, Kecamatan Kampung Laut, Cilacap, Jawa Tengah, berada di kawasan hutan di Pulau Nusakambangan yang kondisinya masih bagus. Foto oleh Lilik Darmawan/Media Indonesia. Indonesia, 2022.

Ada petai, jengkol, jati, dan lainnya. Ada tanaman buah seperti durian, Nangka, hingga kopi. Namun, warga juga menanam albasia demi alasan ekonomi.

“Saya sadar, tidak mungkin saya bicara konservasi saja, tetapi ekonomi warga tidak diperhatikan. Maka, albasia menjadi pohon yang ditanam supaya dapat dipanen,” ungkapnya.

Dalam perjalanan, penanaman pohon tidak hanya bermanfaat untuk pelestarian mata air.

“Pohon buah yang ditanam seperti nangka, hanya sebagian buahnya yang diambil. Sebagian besar kami relakan dimakan satwa. Dengan begitu, satwa liar tetap mendapat makanan dan tidak akan menyambangi kawasan permukiman kami di Lempong Pucung,” tambah Wahyono.

Penghijauan juga membuat lebah datang. Sarang lebah pun bertebaran di antara pepohonan. Warga pun bisa memanen dan mendapatkan hasil pen- jualannya.

“Dengan adanya sarang tawon itu, kami semakin sadar untuk tidak menebang pohon. Kami tidak ingin lebah yang mendatangkan rezeki pergi,” tandasnya.

Bersih lagi

Dusun Lempong Pucung dan Pulau Nusakambangan dulunya terpisahkan perairan laguna Segara Anakan. Namun, akibat sedimentasi yang masuk ke Segara Anakan, di antaranya dari Sungai Citanduy dan Cimeneng, membuat Lempong Pucung dan Nusakambangan menyatu.

Namun, ada batas yang terlihat jelas. Lahan Lempong Pucung paling ujung ialah areal tanah yang kemudian menjadi persawahan. Kemudian, berbatasan langsung dengan Pulau Nusakambangan dengan ditandai wilayah yang lebih tinggi atau perbukitan.

“Di pinggiran Pulau Nusakambangan yang dekat dengan mata air, saya juga menanaminya dengan berbagai jenis bambu. Saya datangkan dari Yogyakarta,” tandas sang kepala dusun.

Kini, setelah penanaman pada 28 tahun silam, air yang mengalir ke Lempong Pucung sudah jernih lagi. Kawasan perkebunan pisang cavendis yang dulu gundul, sekarang sudah hijau lagi.

Wahyono pun dengan langkah tegap dan wajah berseri mengajak Media Indonesia menelusuri tempat penampungan air bersih yang berada persis di pinggiran Pulau Nusakambangan.

Penampungan air dari sumber mata air dibangun secara swadaya oleh masyarakat. Dari penampungan, warga lebih mudah mengalirkan air. “Jarak antara penampungan dan ke dusun sekitar 400 meter. Sebelum 2005, kami menggunakan bambu untuk mengalirkan air. Namun, kemudian banyak LSM dan NGO yang masuk, mereka membantu dengan pemipaan,” ujar Wahyono.

Pria itu mengaku telah meniatkan dirinya untuk menjaga alam. Ia juga sangat aktif melakukan penanaman di hutan mangrove.

“Nusakambangan ini adalah milik bersama. Bagi kami, kerusakan Nusakambangan tidak boleh terjadi. Pengalaman membuktikan, kerusakan hutan telah berdampak pada mata air yang menyuplai kebutuhan air bagi kami,” ungkapnya.

Kini, mata air terus mengalirkan air bersih. Tidak ada lagi air mata yang mengalir.


SUMBER MATA AIR: Wahyono menunjukkan sumber mata air yang persis berada di pinggiran Pulau Nusakambangan. Foto oleh Lilik Darmawan/Media Indonesia. Indonesia, 2022.

Bersama Menjaga Hutan agar Air Terus Mengalir

MENEMBUS malam yang dingin, Muhammad Jamaludin memacu perahunya dari Dusun Bondan ke Dusun Lempong Pucung, di Desa Ujung Alang, Kecamatan Kampung Laut, Cilacap, Jawa Tengah. Di atas perahu, ada lima drum yang dia bawa.

“Untuk mendapat air dari mata air di Pulau Nusakambangan, saya ke Dusun Lempong Pucung. Saya sengaja mengambil pada malam hari karena ketika pagi atau siang bisa antre lama, apalagi pada musim kemarau,” ungkapnya.

Pada siang hari, untuk mendapatkan 5 drum yang setiap drumnya berisi 30 liter, membutuhkan waktu 6 jam dihitung sejak berangkat hingga pulang. Malam hari, karena tidak antre hanya menghabiskan waktu 3 jam.

“Ini adalah kegiatan rutin pada musim kemarau. Ketika itu, Dusun Bondan belum memiliki peralatan pengolah air payau menjadi air bersih,” kata dia.

Jamal, panggilan pria itu, mengaku Dusun Bondan tidak memiliki air tanah. Pasalnya, dusun itu terbentuk dari pendangkalan yang kemudian menjadi daratan.

Pada musim penghujan, warga setempat menyiapkan drum-drum untuk menampung air. Air diendapkan atau disaring sebagai air bersih yang dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan seharihari, terutama memasak.

Jika tidak membawa drum, warga yang mengambil air bersih di Nusakambangan langsung memasukkannya ke perahu. Pembawanya cukup duduk di ujung perahu.

Jamal hanya sekali dalam sepekan mengambil air bersih. Biaya BBM untuk pengambilan air antara Rp50 ribu dan Rp100 ribu. “Dulu ada yang jualan air bersih, tapi sekarang tidak lagi. Satu drum isi 30 liter harganya Rp5.000,” ujarnya.

7 sumber air

Kepala Dusun Lempong Pucung Thomas Heri Wahyono mengatakan keberadaan usakambangan sangat vital bagi masyarakat Kampung Laut. Tokoh senior Kampung laut itu mengaku sebagai orang yang lahir di kawasan tersebut sangat merasakannya.

“Nusakambangan adalah wilayah daratan yang menyuplai kebutuhan air bersih bagi warga sekitar. Di pulau itu ada tujuh sumber mata air yang dimanfaatkan warga di Kecamatan Kampung Laut,” jelasnya.

Di wilayah paling barat ialah Masigit Sela. Sebuah sumber mata air dari gua di Nusakambangan bagian barat. Air dari sana menghidupi warga Desa Klaces dan Ujung Alang. Kemudian, sumber air Mangunjaya yang dimanfaatkan dua RT di Kampung Laut.

Titik ketiga ialah Batu Lawang yang menjadi sumber air bersih bagi warga dua dusun, yakni Motehan dan Paniten, Desa Ujung Alang. Khusus penyaluran air dari mata air itu sudah dikelola badan usaha milik desa.

Masyarakat tidak perlu repot lagi mengalirkan sendiri-sendiri karena telah ada pemipaan yang masuk ke rumah-rumah. Warga memberikan iuran untuk pemeliharaan mata air dan jaringan air bersih.

“Ada lagi sumber mata air Ketapang, Jambe Sewu, Kalibener, dan Pasuruan. Kalau yang dimanfaatkan oleh masyarakat Dusun Lemping Pucung dan yang diambil warga Bondan, ialah sumber mata air Jambe Sewu,” ujarnya.

Wahyono mengatakan secara keseluruhan, mata air di Pulau Nusakambangan mampu memenuhi kebutuhan sekitar 1.300 kepala keluarga (KK) atau 3.000 jiwa. “Jadi, dapat dibayangkan, jika hutan di Nusakambangan rusak, yang terjadi adalah kesulitan air bersih ribuan warga. Ini yang tidak boleh terjadi. Warga harus bersama-sama menjaga hutan supaya air bersih tetap mengalir,” tegasnya.

RELATED CONTENT