TEMPAT KAMI MELAPORKAN


Terjemahkan halaman dengan Google

Artikel Publication logo Mei 18, 2022

Menyelamatkan Tahura Dengan Blok Pengelolaan

Negara:

Penulis:
A man measures and examines plants using a stick while squatting in the rainforest.
Inggris

The Herman Johannes Forest Park has an area of 1,900 hectares. It is located in 12 villages and four...

SECTIONS

HAMPARAN HUTAN RAKYAT: Jalan utama menuju Taman Hutan Rakyat Prof Ir Herman Johannes yang memiliki luas 2.038,30 hektare, meliputi 10 desa dan dua kelurahan di Kecamatan Amarasi dan Amarasi Selatan, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur. Foto oleh Palce Amalo. Indonesia, 2022.

Penebangan pohon di Tahura Prof Ir Herman Johannes terus berlangsung hingga kini. Untuk menyelamatkan tahura, diciptakan blok pengelolaan.

SEPERTI cerita lama yang berulang. Penebangan pohon di Taman Hutan Raya (Tahura) Prof Ir Herman Johannes mengingatkan pada kasus-kasus pada masa lalu. Ada yang terungkap, tetapi banyak yang tidak tersingkap.

Fakta tentang masyarakat yang bermukim di kawasan hutan, juga pengambilan kayu bakar, pembukaan kebun, penggembalaan ternak secara liar, dan perburuan satwa, masih ada. Kasus-kasus itu sering terjadi, bahkan sudah dianggap biasa.

“Seringkali pemerintah bingung dengan fakta-fakta seperti ini sehingga kita hanya mengimbau masyarakat boleh menanam (berkebun), tetapi tidak boleh ada penebangan pohon,” kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Kabupaten Kupang Peternus Vinsi dalam sebuah wawancara pada April 2022. Setidaknya sampai sekarang solusi menyelamatkan kawasan ini belum ada, seperti membawa warga keluar dari sana demi mencegah perusakan hutan. Ayup Titu Eki, yang menjabat Bupati Kupang selama dua periode dan berakhir pada 2019, pernah menyebut hutanlah yang menyerobot permukiman masyarakat, bukan sebaliknya masyarakat yang menyerobot hutan.

Bagaimana bisa? Karena masyarakat lebih dulu bermukim dan memanfaatkan hasil hutan sebelum pemerintah menetapkannya sebagai lokasi yang dilindungi. “Ini pilihan yang sulit, butuh proses yang lama,” tambah Peternus.


As a nonprofit journalism organization, we depend on your support to fund journalism covering underreported issues around the world. Donate any amount today to become a Pulitzer Center Champion and receive exclusive benefits!


Blok pengelolaan

Namun, sebelum meletakkan jabatan, pada 2018, Ayup Titu Eki mengeluarkan sebuah dokumen tentang blok pengelolaan hutan untuk dibahas bersama Direktorat Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

Dia memetakan Tahura Prof Ir Herman Johannes itu ke dalam tujuh blok sesuai dengan kondisi, potensi, dan daya dukung demi mewujudkan pengelolaan hutan yang efektif dan lestari. Empat tahun berlalu, sampai Mei 2022, dokumen itu masih dalam proses pembahasan akhir untuk selanjutnya disahkan menjadi dasar dalam menata blok-blok yang ditetapkan itu. Tujuh blok pengelolaan itu ialah khusus, koleksi, pemanfaatan, perlindungan, rehabilitasi, tradisional, dan religi, budaya, dan sejarah dengan luas yang berbeda-beda.

Dari dokumen itu juga terungkap kerusakan hutan itu masih di bawah angka kerusakan yang disampaikan dosen Universitas Nusa Cendana, Nikson Rammang, 60%-70%. Namun, kerusakan hutan sesuai dengan data pemerintah dalam dokumen itu tidak tergolong kecil, meliputi seluruh blok rehabilitasi seluas 796,39 hektare (ha), atau 36,4%.

Masih ditambah blok khusus seluas 23,89 ha (1,2%). Kerusakan dalam jumlah kecil ditemukan di blok koleksi yang memiliki seluas 293,70 ha, atau 15,1% dari luas kawasan. Blok khusus ialah wilayah hutan yang di dalamnya terdapat permukiman penduduk. Masyarakat tetap berada di sana. Pemerintah bertugas melakukan pemulihan ekosistem dengan cara rehabilitasi dan restorasi. Di blok koleksi terdapat tumbuhan asli atau lokal, juga akan menjadi pusat pengembangan koleksi tumbuhan dari luar daerah. Selanjutnya, blok tradisional seluas 97,90 ha (5%) tercatat sebagai wilayah yang telah dimanfaatkan masyarakat untuk berkebun. Di situ ada mamar yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Menurut rencana, itu dikelola dengan pola perhutanan sosial, kemitraaan, dan desa konservasi. Untuk blok pemanfaatan dengan luas 89,25 hektare, atau 4,2%, ada lokasi wisata Air Terjun Tesbatan dan Danau Nefoko’u, dan wisata lanskap.

Selanjutnya di blok perlindungan yang memiliki luas 727,32 ha (38%), ada satwa endemik Timor antara lain yang masih ditemukan kuskus, landak, burung nuri , kera (Macaca irus), biawak timor, ular sanca timor, dan burung srigunting. Tumbuhan yang dominan ialah mahoni, sonokeling, cendana, kemiri, sengon laut, akasia, johar, kemiri, ampupu, hue, matani, kabesak, bonak, enau, sublele, gewang, dan lontar.

Nantinya, blok itu jadi lokasi penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan, juga pemanfaatan sumber plasma muftah untuk penunjang budidaya. Pemerintah juga membangun blok religi, budaya, dan sejarah yang menempati lahan seluas 9,85 ha (5%) untuk perlindungan nilai-nilai budaya dan sejarah dan wisata alam bebas. “Kami akan tingkatkan peran masyarakat melalui pengamanan swakarsa,” janji Peternus.

Karena tahura berada di ketinggian 230-650 meter di atas permukaan laut, setelah perjalanan di bawah temperatur 32- 33 derajat celsius, hawa dingin 26 derajat celsius tahura langsung menusuk kulit tubuh. Bila blok pengelolaan Tahura Prof Ir Herman Johannes disahkan, ditambah mudahnya akses warga Kota Kupang dan warga dari wilayah Kabupaten Kupang lainnya, itu bakal jadi destinasi wisata menarik di pedalaman Timor. Bisa jadi, cerita lama tentang perusakan tahura pun berakhir.

RELATED CONTENT