WHERE WE REPORT


Translate page with Google

Story Publication logo December 11, 2023

The Long Wait for Indigenous Forests (bahasa Indonesia)

Country:

Authors:
a person collecting plants in the rainforest
English

Many Indigenous communities are trying to get their customary forest status recognized by the...

author #1 image author #2 image
Multiple Authors
SECTIONS
Aparat Polda Kalteng menjaga proses olah TKP di lokasi kejadian penembakan warga Seruyan hingga satu orang tewas tertembak, Oktober 2023.
Central Kalimantan Police officers guard the crime scene at the scene of the shooting of Seruyan residents until one person was shot dead, October 2023. Image by Dionisius Reynaldo Triwibowo. Indonesia, 2023.

An English summary of this report is below. The original report, published in bahasa Indonesia in Kompas, follows.


The struggle for the recognition and preservation of Indigenous customary forests in Sumatra and Kalimantan has led to conflicts and losses for these traditional communities. Land intended for their management has been sacrificed for oil palm plantations, causing significant disruptions to their lives and cultures.

In Central Kalimantan's Seruyan Regency, Bangkal Village's once-forested expanse has transformed into oil palm plantations over the past dozen years, affecting the residents' access to land and livelihoods. Efforts at mediation between residents and the government regarding land usage have not yielded positive outcomes, leaving many disillusioned and without the promised opportunities for independent work on their lands. The conflict erupted in riots, resulting in casualties and further aggravating the longstanding tensions.

Similar conflicts in Kinipan Village, Lamandau Regency, Central Kalimantan, saw Indigenous customary forests threatened by oil palm cultivation, leading to legal processes and community leaders facing incarceration. These clashes echo across regions, impacting Indigenous communities in Sumatra as well. The Simenak Henak Indigenous Peoples Group in North Sumatra had their struggle for forest rights acknowledged by President Joko Widodo, yet they've faced challenges in reclaiming and enjoying their customary forests fully.

Despite efforts to reclaim these forests through recognition of customary rights, bureaucratic hurdles and slow processes hinder their full restoration.


As a nonprofit journalism organization, we depend on your support to fund journalism covering underreported issues around the world. Donate any amount today to become a Pulitzer Center Champion and receive exclusive benefits!


Berlarutnya Penantian di Hutan Adat

Berlarutnya konflik hutan adat di Sumatera dan Kalimantan mengorbankan ruang kelola dan nyawa warga.


Konflik mewarnai penantian terhadap pengakuan negara atas hutan-hutan adat di Sumatera dan Kalimantan. Tak sedikit ruang kelola dikorbankan menyebabkan hilangnya ruang kelola bagi masyarakat.

Hutan adat di Bangkal, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, misalnya, telah hilang berganti sawit. Tidak hanya lahan bernafkah yang musnah, nyawa warga pun ikut melayang.

Belasan tahun lalu, mayoritas kawasan Desa Bangkal di Kecamatan Seruyan Raya, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, adalah hutan dan ladang warga. Kini, banyak lahan berganti kebun sawit. Sejak saat itu, konflik pun belum ketahuan ujungnya.

Selasa (28/11/2023) sore, wajah Maselin (45) murung. Dia kehilangan semangat saat hendak pulang meninggalkan aula kantor Desa Bangkal. Mediasi warga dan pemerintah tentang kebun plasma sawit pun tidak membuahkan hasil.

Tuntutan ratusan warga mendapat kebun plasma tidak dipenuhi. Artinya, pupus pula harapannya untuk mandiri menggarap lahan.

Sebelumnya, 7 Oktober 2023, Bangkal rusuh. Warga yang menggelar aksi bentrok dengan aparat. Salah satu korbannya, Gijik (35), kawan seperjuangannya, tewas ditembak. Sampai sekarang pelakunya belum ditangkap.

Kematian Gijik adalah buah dari bara yang tidak kunjung padam 18 tahun terakhir. Awalnya, ia ingat betul saat orang-orang datang ke desanya menggunakan mobil mewah. Semua kemewahan itu kontras dengan akses jalan yang masih rusak parah.

Peserta aksi menggelar ritual adat di tengah aksi mendesak hakim membebaskan Kepala Desa Kinipan Willem Hengki pada Selasa (31/5/2022). Willem Hengki dituntut 1 tahun 6 bulan penjara.
Peserta aksi menggelar ritual adat di tengah aksi mendesak hakim membebaskan Kepala Desa Kinipan Willem Hengki pada Selasa (31/5/2022). Willem Hengki dituntut 1 tahun 6 bulan penjara. Foto oleh Dionisius Reynaldo Triwibowo. Indonesia, 2022.

Panjang lebar orang-orang yang datang itu berbicara, meminta izin agar dibolehkan mengubah hutan jadi kebun sawit. Namun, kata Maselin, semua warga saat itu menolak.

Walakin, para pejabat tak menyerah. Mereka kembali ke desa dengan berbagai janji manis lapangan pekerjaan, kebun hak (kini disebut kebun plasma), hingga kesejahteraan. Warga pun luluh. Akan tetapi, janji tinggal kenangan. Delapan belas tahun berlalu, tidak semuanya dipenuhi.

Hutan dan ladang telanjur diberikan. Tempat warga berburu, meramu bumbu, hingga tempat ritual hilang tak tersisa.

Tak hanya di Seruyan. Konflik serupa juga terjadi di Desa Kinipan, Kabupaten Lamandau, Kalteng. Hutan adat mereka terancam perkebunan sawit. Dari total 16.000 hektar hutan adat yang diusulkan sejak 2018, hampir 4.000 hektar sudah dibuka untuk ditanami sawit.

Bahkan, masyarakat adat harus menghadapi proses hukum. Ketua Komunitas Adat Laman Kinipan Effendi Buhing dan lima warga lainnya sempat mendekam di balik jeruji.

Kepala Desa Kinipan Willem Hengki juga pernah berurusan dengan hukum karena dituduh korupsi. Banyak pihak menilai kasus itu terkesan dibuat-buat.

Ketua Kelompok Masyarakat Adat Simenak Henak Mangapul Samosir (kiri) dan Andreas Sinambela (27) membersihkan pohon kemenyan di hutan adat, Desa Parsoburan Barat, Kecamatan Habinsaran, Kabupaten Toba, Sumatera Utara, Kamis (16/11/2023).
Ketua Kelompok Masyarakat Adat Simenak Henak Mangapul Samosir (kiri) dan Andreas Sinambela (27) membersihkan pohon kemenyan di hutan adat, Desa Parsoburan Barat, Kecamatan Habinsaran, Kabupaten Toba, Sumatera Utara, Kamis (16/11/2023). Foto oleh Nikson Sinaga. Indonesia, 2023.

Kasus di Sumatera

Ketua Kelompok Masyarakat Adat Simenak Henak, Sumatera Utara, Mangapul Samosir (68), mengatakan, selama puluhan tahun, hak kelola Masyarakat Adat Simenak Henak atas hutan mereka terhalang keberadaan sebuah perusahaan monokultur. Perusahaan mengantongi izin kehutanan sejak 1992.

Perjuangan masyarakat menuntut kembali hutan adat mereka baru berbuah tahun lalu. Presiden Joko Widodo menyerahkan langsung SK tersebut di Kabupaten Humbang Hasundutan pada 3 Februari 2022.

”Namun, kami belum bisa menikmati sepenuhnya hutan adat yang telah diberikan langsung oleh Presiden,” ujarnya.

Penyebabnya, hamparan hutan itu telah berubah jadi kebun. Selain karena masih adanya kebun eukaliptus yang akan dipanen perusahaan, legalitas hutan adat mereka juga terganjal belum terbitnya surat keputusan bupati tentang penetapan masyarakat adat. Kebijakan itu padahal menjadi kunci untuk finalisasi penetapan hutan adat oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

Hal serupa terjadi di Aceh. Kepala Imum Mukim Panga Pasi, Kabupaten Aceh Jaya, Hamidi mengatakan, hutan adat milik mereka juga sempat babak belur dijadikan konsesi perusahaan hak pengusahaan hutan. Pohon-pohonnya ditebang untuk ekspor ke luar negeri.

Suasana asri di hutan adat milik Mukim Blang Birah, Kecamatan Peudada, Kabupaten Bireuen, Provinsi Aceh.
Suasana asri di hutan adat milik Mukim Blang Birah, Kecamatan Peudada, Kabupaten Bireuen, Provinsi Aceh. Foto oleh Zulkarnaini. Indonesia, 2023.

Perusahaan beroperasi era 1990-an. Pada masa Aceh dilanda konflik bersenjata, perusahaan-perusahaan pemegang izin beraktivitas dengan lancar, tetapi tidak melakukan kewajiban pemulihan hutan yang ditebang. Masyarakat bersyukur, hutan adat akhirnya dikembalikan negara kepada mereka.

”Sebenarnya perusahaan yang mengambil hutan kami. Melalui penetapan hutan adat, kami mengambil kembali hutan yang sempat dikuasai perusahaan,” kata Hamidi.

Ruang hidup

Direktur Save Our Borneo Muhammad Habibi menjelaskan, hutan adat bukan sekadar skema pemerintah belaka, melainkan ruang hidup. Mestinya pemerintah melihatnya dari kacamata adat atau kearifan lokal, bukan investasi semata.

”Berburu dan berladang merupakan aktivitas rutin yang dipraktikkan untuk memenuhi kehidupan sehari-hari mereka di hutan adat, bahkan sebelum negara ini ada,” kata Habibi.

Senada, Direktur Advokasi Kebijakan Hak AMAN Pusat, Muhammad Arman, menilai, dukungan pemerintah terhadap penetapan hutan adat juga lebih rendah dibandingkan penetapan jenis perhutanan sosial lain, seperti hutan desa, hutan kemasyarakatan, kemitraan kehutanan, dan hutan tanaman rakyat.

KLHK memberi persetujuan perhutanan sosial 6,3 juta hektar per September 2023, dari target 12,7 juta hektar. Pada 2022, AMAN menemukan, skema perhutanan sosial di luar hutan hak justru merampas sekitar 250.000 hektar hutan adat.

Vegetasi menjulang tinggi di Hutan Adat Talun Sakti, Dusun Muara Seluro, Desa Raden Anom, Batangasai, Kabupaten Sarolangun, Jambi, Kamis (24/11/2023).
Vegetasi menjulang tinggi di Hutan Adat Talun Sakti, Dusun Muara Seluro, Desa Raden Anom, Batangasai, Kabupaten Sarolangun, Jambi, Kamis (24/11/2023). Foto oleh Irma Tambunan. Indonesia, 2023.

Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi, yang memfasilitasi proses hutan adat di Sumatera dan Kalimantan, menyebut lambatnya pengakuan negara disebabkan oleh beberapa hal. Di Jambi, proses di Hutan Adat Lubuk Mentilin dan Renah Alai, Kabupaten Merangin, lambat, padahal secara persyaratan sudah lengkap. Setelah ditelusuri, penyebabnya adalah kewenangan untuk melakukan verifikasi masih di Direktorat Jenderal Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan, KLHK. Usulan kedua desa ini menjadi berbiaya besar jika dilakukan verifikasi teknis.

Pada sejumlah hutan adat lainnya, pengakuan lambat karena ada keraguan-raguan di tingkat kabupaten. Karena itu, perlu ada terobosan, di antaranya perda payung di tingkat provinsi tentang Tata Cara Pengakuan Masyarakat Hukum Adat.

”Perda payung ini melingkupi tata cara pengakuan masyarakat hukum adat di satu daerah maupun di lintas daerah,” kata Adi Junaedi, Direktur KKI Warsi.